Muhammad Abdullah Azzam
27 Oktober 2020•Update: 28 Oktober 2020
Zehra Nur Duz
ANKARA
Menteri luar negeri Iran pada Senin mengecam penghinaan baru-baru ini terhadap Islam dan Nabi Muslim Muhammad SAW oleh pejabat Prancis.
“Muslim adalah korban utama dari 'kultus kebencian' yang diberdayakan oleh rezim kolonial dan diekspor oleh partner mereka sendiri,” kata Menlu Iran Javad Zarif di Twitter.
Menggarisbawahi bahwa ujaran kebencian terhadap Islam hanya menyulut ekstremisme, Zarif mengatakan menghina 1,9 miliar Muslim - dan kesucian mereka - karena kejahatan menjijikkan dari ekstremis semacam itu adalah penyalahgunaan kebebasan berbicara oportunistik.
Selama beberapa hari terakhir, Prancis membiarkan pemasangan karikatur dan gambar yang menghina Nabi Muhammad di beberapa bangunan di negara itu.
Selain kartun provokatif, Presiden Macron awal bulan ini juga mengungkapkan Islam sebagai agama yang mengalami krisis dan mengumumkan rencana membuat undang-undang yang lebih keras untuk menangani yang mereka klaim "separatisme Islam" di Prancis.
Muslim Prancis menuduh Macron berusaha menekan agama Islam dan melegitimasi Islamofobia.
Beberapa negara Arab bersama Turki dan Pakistan juga mengutuk sikap Macron terhadap Muslim dan Islam, di mana Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan presiden Prancis itu membutuhkan "pemeriksaan kesehatan mental."