Maria Elisa Hospita
05 November 2018•Update: 06 November 2018
Firdevs Yuksel
ANKARA
Iran menganggap penggantian pasokan minyaknya oleh negara lain setelah pemberlakuan sanksi putaran kedua dari Amerika Serikat (AS) sebagai gertakan politik.
"Ekspor minyak Iran tidak akan berkurang hingga nol, tetapi pasokan minyak Iran yang menurun akan mempengaruhi pasar," kata Wakil Ketua Komite Energi Parlemen Iran Hussein Amiri Khamkani seperti dilansir oleh Kantor Berita Shana, pada Minggu.
Menurut dia, keputusan AS meringankan sanksi delapan negara pengimpor minyak Iran mengindikasikan fakta bahwa Washington telah gagal mencapai tujuannya untuk menjatuhkan ekspor minyak Iran hingga ke titik nol.
"Secara teknis, Arab Saudi tidak bisa menggantikan minyak Iran," kata Khamkani, sambil menegaskan bahwa ekspor minyak Iran tidak akan pernah berhenti.
"Selama 40 tahun terakhir, kami telah menyaksikan berbagai sanksi, sehingga kami terbiasa dengan masalah yang mereka buat," kata dia lagi.
Sanksi putaran kedua dari AS ke Iran diberlakukan mulai Senin, yang menargetkan sektor energi, perkapalan, dan keuangan Iran.
Jumat lalu, pemerintah AS mengumumkan akan mengizinkan delapan negara importir melanjutkan perdagangan minyak dengan Iran untuk sementara waktu.
China, India, Korea Selatan, Turki, Italia, Amerika Serikat, Jepang dan Taiwan adalah salah satu importir utama minyak Iran.