22 Juni 2026•Update: 22 Juni 2026
Iran akan mengirimkan seorang perwakilan ke mekanisme baru yang direncanakan dibentuk untuk memantau gencatan senjata di Lebanon, menurut laporan kantor berita semi-resmi Mehr pada Senin.
Mengutip pernyataan delegasi perunding Iran, Mehr melaporkan bahwa partisipasi Teheran dalam mekanisme pengawasan gencatan senjata tersebut merupakan bagian dari kesepahaman yang dicapai dalam pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat di Swiss pada Minggu terkait implementasi nota kesepahaman kedua negara.
Menurut Mehr, Iran kini telah menjadi bagian dari "persamaan keamanan" di Lebanon dan akan mengirimkan seorang perwakilan ke mekanisme yang bertugas memantau pelaksanaan gencatan senjata.
"Israel tidak akan menjadi bagian dari mekanisme tersebut," tulis kantor berita itu.
Saat ini, mekanisme pengawasan gencatan senjata yang berlaku terdiri atas Amerika Serikat, Lebanon, Israel, dan Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL). Mekanisme tersebut dinilai gagal menghentikan serangan Israel yang terus berlangsung di Lebanon.
Situasi relatif tenang secara hati-hati telah berlangsung di Lebanon selatan sejak Minggu dini hari di tengah perundingan Iran dan AS di Swiss.
Menurut otoritas Lebanon, ofensif militer Israel di negara itu telah menewaskan lebih dari 4.000 orang, melukai lebih dari 12.000 lainnya, dan menyebabkan lebih dari 1 juta warga mengungsi sejak 2 Maret.
Israel masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, sebagian selama puluhan tahun dan sebagian lainnya sejak perang sebelumnya pada 2023–2024.
Terkait pelayaran di Selat Hormuz, Mehr menilai keputusan untuk membentuk mekanisme pengamanan navigasi di jalur strategis tersebut sebagai bentuk "penguatan kedaulatan Iran" atas Selat Hormuz.
Menurut laporan itu, apabila Pasal 13 dalam nota kesepahaman Iran-AS diterapkan, maka perundingan kedua negara akan berlangsung melalui tiga kelompok kerja terpisah yang membahas isu nuklir, sanksi, dan mekanisme pengawasan.
Pasal 13 mengatur dimulainya negosiasi menuju kesepakatan final setelah pelaksanaan sejumlah ketentuan dalam nota kesepahaman, termasuk penghentian perang di seluruh front termasuk Lebanon, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz untuk pelayaran, pencabutan sanksi terhadap Iran, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan.
"Iran tidak akan melanjutkan negosiasi jika Pasal 13 tidak diterapkan," lapor Mehr.
Kantor berita tersebut juga melaporkan bahwa Iran dan Qatar telah menandatangani nota kesepahaman terkait pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Belum ada komentar langsung dari pihak Qatar mengenai laporan tersebut.
Sebelumnya, mediator Qatar dan Pakistan menyatakan bahwa perundingan antara Iran dan AS berlangsung dalam suasana "positif dan konstruktif" serta menghasilkan "kemajuan yang menggembirakan".
Menurut kedua mediator, para pihak menyepakati sejumlah mekanisme untuk mendorong tercapainya kesepakatan final, termasuk pembentukan Komite Tingkat Tinggi, kelompok kerja teknis, serta peta jalan selama 60 hari menuju kesepakatan akhir.
Pembicaraan teknis dijadwalkan berlanjut pekan ini untuk membahas berbagai isu yang masih tersisa.