Rhany Chairunissa Rufinaldo
06 Agustus 2020•Update: 06 Agustus 2020
Yousef Hussein
BEIRUT
Gubernur Beirut mengungkapkan bahwa kerusakan material dari ledakan mematikan di ibu kota Lebanon itu menelan biaya hingga USD15 miliar (sekitar Rp.218,6 triliun).
"Beirut telah menjadi kota yang hancur. Separuh dari kota itu hancur, dan ratusan ribu penduduk tidak akan dapat kembali ke rumah mereka hingga dua atau tiga bulan," kata Marwan Abboud kepada wartawan, Rabu.
"Kerusakannya terlalu besar. Kami memperkirakan kerusakan material langsung dan tidak langsung sekitar USD10-15 miliar. Ini adalah krisis terbesar yang dilalui Lebanon di zaman modern," ujar dia dia dalam konferensi pers lainnya.
Dalam sebuah pernyataan pada hari sebelumnya, Abboud memperkirakan kerusakan mencapai USD3-5 miliar.
Menteri Kesehatan Hamad Hassan mengatakan 135 orang tewas dan sekitar 5.000 lainnya terluka dalam ledakan itu, sementara ada banyak orang yang terperangkap di bawah reruntuhan di Beirut.
Pada Selasa, ledakan besar mengguncang Pelabuhan Beirut, menyebabkan banyak orang tewas dan terluka serta mengakibatkan kerusakan yang meluas di beberapa wilayah ibu kota.
Gubernur menambahkan bahwa tidak ada angka akurat soal jumlah orang yang hilang.
Ledakan itu terjadi beberapa hari sebelum putusan pengadilan yang didukung PBB dalam kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri Rafik al-Hariri, yang kini telah ditunda hingga 18 Agustus untuk menghormati para korban ledakan.
Sementara itu, Lebanon saat ini sedang menghadapi krisis ekonomi terparah dalam beberapa dekade.