05 Agustus 2017•Update: 07 Agustus 2017
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Brexit adalah "cobaan untuk generasi ini," kata Perdana Menteri Leo Varadkar, Jumat.
Varadkar mengatakannya hal tersebut saat melakukan kunjungan resmi pertamanya sebagai kepala pemerintahan Irlandia di negara bagian Irlandia Utara, Inggris.
Kata dia, pulau Irlandia dapat dipastikan bakal terpecah-belah saat Inggris - termasuk Irlandia Utara - keluar dari Uni Eropa pada 2019. Sementara Inggris keluar dari keanggotaan Uni Eropa, Republik Irlandia akan tetap jadi bagian Uni Eropa.
Selama ini, pernyataan-pernyataan Varadkar sebagai pemimpin Irlandia diartikan sebagai kerasnya sikap Dublin atas keputusan Inggris menyoal Brexit. Pekan lalu, ia berkata tak tertarik untuk "membuat perbatasan untuk pendukung Brexit".
Laporan parlemen Irlandia baru-baru ini juga mengangkat isu untuk membangun pemerintahan yang terdiri dari seluruh bagian Irlandia pasca Inggris keluar dari Uni Eropa. Mereka menginginkan Irlandia yang sepenuhnya merdeka dari Inggris.
Saat menjadi pembicara utama di Queen's University Belfast pada Jumat, Varadkar berkata keluarnya Inggris dari Uni Eropa akan memengaruhi kehidupan masyarakat Irlandia Utara, di mana mayoritas masyarakatnya memilih Inggris tetap bergabung dengan Uni Eropa saat referendum Juni 2016.
Negosiasi soal Brexit saat ini sedang berlangsung di Brussel. Dan mengutip [negosiator Uni Eropa] Michel Barnier, Varadkar berkata, "Waktu hampir habis".
Bicara soal efek yang mungkin terjadi setelah Brexit, Varadkar berkata, "semua aspek kehidupan" di Irlandia Utara akan terpengaruh dengan berakhirnya 44 tahun keanggotaan Inggris bersama Uni Eropa.
"Tiga isu utama [yang dihadapi masyarakat Irlandia sekarang] adalah hak asasi masyarakat, persoalan keuangan, dan isu-isu yang terkait dengan Irlandia. Harapan saya ada kemajuan yang terjadi, tapi saya tidak menafikkan tantangan yang kita hadapi," kata Varadkar.