Maria Elisa Hospita
21 Maret 2019•Update: 22 Maret 2019
Mohammed Amin
KHARTOUM
Blok oposisi terbesar di Sudan menarik diri dari kesepakatan peta jalan yang ditandatangani dengan pemerintah pada 2016, yang menurut mereka tak mengikat.
Keputusan oleh Nidaa al-Sudan diumumkan dalam pernyataan penutup pertemuan para pemimpinnya selama tiga hari di Paris.
Blok itu, termasuk kelompok pemberontak serta beberapa partai politik, mengumumkan bahwa semua kelompok bersenjata akan menghentikan negosiasi dengan pemerintah.
Pada Agustus 2016, para pemimpin blok meneken kesepakatan peta jalan di Addis Ababa yang telah ditandatangani oleh pemerintah Sudan beberapa tahun yang sama.
Yang termasuk dalam blok itu adalah Gerakan Pembebasan Sudan, Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan, dan Gerakan Keadilan dan Kesetaraan. Beberapa partai politik, di antaranya Partai Umma Nasional dan Partai Kongres Sudan juga tergabung dalam blok.
Sudan telah diguncang gelombang protes selama dua bulan terakhir, di mana demonstran mengecam Presiden Omar al-Bashir yang gagal menangani krisis ekonomi di negara itu.
Sudan, yang berpenduduk 40 juta jiwa, telah berjuang untuk pulih dari kerugian produksi minyak sejak Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011.