Rhany Chairunissa Rufinaldo
15 Agustus 2018•Update: 15 Agustus 2018
Maecy Alviar
ZAMBOANGA CITY, Filipina
Kedutaan Amerika Serikat (AS) dan Inggris di Manila pada Selasa, memperingatkan warga mereka tentang ancaman penculikan di provinsi Palawan, mengutip informasi dari pemerintah setempat.
Dalam sebuah peringatan keamanan yang dipasang di situs webnya, kedutaan AS mengutip Komandan Angkatan Bersenjata Barat Filipina yang mengatakan mereka “tetap waspada dan terus memperketat postur keamanannya di Palawan melawan semua bentuk ancaman di tengah informasi yang beredar tentang kemungkinan penculikan di Provinsi itu".
Kedutaan mengingatkan warga Amerika untuk waspada, meninjau kembali rencana keamanan pribadi mereka dan memantau media lokal untuk perkembangan.
Pemerintah Inggris menyarankan warganya untuk tetap waspada setiap saat dan memperingatkan mereka agar tidak bepergian ke Mindanao barat dan tengah dan kepulauan Sulu karena adanya kegiatan teroris dan bentrokan antara militer dan kelompok pemberontak.
London mengutip peringatan dari otoritas lokal di Palawan tentang "risiko tinggi penculikan".
"Peningkatan jumlah penculikan warga negara asing, termasuk serangan yang menargetkan orang asing dan turis sudah ada sejak akhir 2015. Kelompok teroris terus merencanakan operasi penculikan terhadap warga negara barat di Filipina," kata penasehat itu.
Palawan adalah tujuan wisata utama tidak hanya di Filipina tetapi juga di Asia. Palawan menempati peringkat kelima tahun ini di daftar 10 besar pulau-pulau di Asia versi majalah Travel + Leisure.
Militer dan pemerintah lokal di Palawan baru-baru ini memperingatkan masyarakat terhadap ancaman penculikan oleh Kelompok Abu Sayyaf.
Berbekal peralatan eksplosif, mortar dan senapan otomatis, kelompok itu telah melakukan pemboman, penculikan, pembunuhan dan pemerasan dalam serangan pembebasan sebuah provinsi independen di Filipina sejak 1991.
Kelompok itu dianggap bertanggung jawab atas penculikan pada tahun 2000 di Dos Palmas Resort di Palawan, di mana 17 orang Filipina dan tiga orang AS diculik, yang menyebabkan kematian sedikitnya 22 prajurit Filipina dan lima sandera, termasuk dua warga negara AS.