Vakkas Dogantekin
ANKARA
James Stavridis, mantan laksamana laut AS, memperingatkan kehilangan Turki akan menjadi kesalahan geopolitik yang signifikan bagi NATO mengingat Turki memiliki tentara terbesar kedua di aliansi negara tersebut.
Hal ini diungkapkan oleh Stavridis dalam kolomnya di Bloomberg.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya menyebut polemik S-400 menempatkan AS pada situasi yang sangat sulit dan menyalahkan mantan presiden Barack Obama.
"Itu bukan kesalahan Turki atau Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan," kata Trump.
Tetapi di bawah tekanan dari Pentagon dan Departemen Luar Negeri, pemerintahan Trump pada Rabu mencoret partisipasi Turki dalam program jet tempur F-35.
Stavridis menentang kemungkinan sanksi AS terhadap Turki atas pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia yang tiba pekan lalu.
“Hal itu akan jadi sebuah preseden mengerikan bagi sebuah negara, diusir karena sanksi," ujar Stavridis.
Stavridis lebih jauh mempertimbangkan pertaruhan untuk AS dan Eropa dalam kasus ini.
"Turki telah lama menjadi anggota operasional aliansi yang penting—pasukan Turki di bawah komando saya sangat profesional dan mereka merupakan bagian operasi kami di Afghanistan, Libya dan wilayah Balkan, serta menentang pembajakan di laut lepas," tulis dia.
"Barat perlu bekerja menuju hasil yang, setidaknya, membuat Turki berfungsi, sebagai anggota NATO," tambah dia.
Stavridis juga mengatakan debat sistem senjata harus dialihkan dari konteks sengketa AS-Turki yang sedang terjadi saat ini, dan memusatkan persoalan ini di Brussels, markas NATO.
"Satu suara diperlukan untuk membujuk Turki bahwa pembelian S-400 adalah kesalahan, tetapi bukan akhir dari partisipasi Turki dalam NATO," kata dia.
Solusi tanpa sanksi
Stavridis juga mendesak NATO untuk lebih kreatif dalam menangani masalah ini.
"Sebagai contoh, mungkin ada solusi teknis untuk 'menutup' S-400 dari sistem pertahanan udara NATO lainnya, yang dioperasikan di Pangkalan Udara Ramstein di Jerman," terang dia, seraya menggaungkan pernyataan Turki bahwa tidak ada konflik yang tak dapat diatasi antara sistem S-400 dan NATO.
Sebelum pembelian S-400, Turki berulang kali mengusulkan pembentukan komisi bersama dengan AS untuk mempelajari masalah-masalah teknis seputar sistem pertahanan ini, tetapi tidak pernah mendapat tanggapan.
"Atau mungkin NATO bisa mendorong Turki untuk tidak jadi menggunakan S-400, lalu menawari mereka sistem pertahanan udara canggih lainnya, dengan harga diskon, untuk memenuhi kebutuhan pertahanan mereka?"
Stavridis lebih lanjut menentang langkag AS menunda pembelian jet tempur F-35 Turki, seraya meminta pembelian itu tidak dapat ditunda - bukannya dibatalkan berdasarkan sanksi - sementara NATO mengatasi persoalan ini.
Stavridis juga memberikan rekomendasi dengan mendorong NATO meningkatkan keterlibatan dengan Turki di bidang-bidang utama lainnya.
Hal tersebut antara lain pertukaran delegasi senior hingga mendorong kontribusi Turki yang lebih besar dalam misi NATO lainnya.
"Harus ada lebih banyak integrasi diplomatik dan operasional di luar wilayah pertahanan udara yang relatif sempit," kata Stavridis.
Dia menyimpulkan bahwa jika Turki memilih untuk membeli S-400, kedua belah pihak dalam perselisihan ini harus melahirkan solusi yang dapat diterima kedua pihak dan bukan menghancurkan persatuan aliansi NATO.
“Itu bisa dilakukan, tetapi akan membutuhkan banyak usaha dan kemauan yang dikompromikan."