Muhammad Abdullah Azzam
02 Juli 2019•Update: 03 Juli 2019
Alaattin Doğru
DAKAR
Sebanyak 23 orang tewas akibat peristiwa kekerasan di daerah Mopti di pusat Mali.
Menurut laporan dari media setempat, sekelompok orang yang mengenakan pakaian tradisional Suku Dogon melakukan serangan bersenjata ke desa Saran, desa milik Suku Fulani.
Serangan itu juga menyebabkan banyak warga lainnya menderita luka-luka.
Kepala desa Ouenkoro, Harouna Sankare, mengatakan kepada media bahwa para penyerang bergerak menuju ke desa Bidi setelah menyerang desa Saran. Namun hampir 300 orang penghuni desa sudah dievakuasi terlebih dahulu.
Para penyerang membakar rumah dan kandang ternak milik warga.
Di sisi lain, otoritas Mali juga mengkonfirmasi serangan itu.
Konflik etnis telah meningkat selama setahun terakhir di wilayah tengah Mali. Konflik etnis paling berdarah terjadi di pusat daerah Mopti.
Sebelumnya 160 orang tewas dan 65 lainnya terluka dalam serangan bersenjata di wilayah Mopti oleh para penyerang yang berpakaian seperti pemburu tradisional Dozo pada 23 Maret lalu.
Penggembala dari suku Fulani, yang sebagian besar tinggal di Mali tengah, telah mengalami sejumlah serangan dalam beberapa tahun terakhir akibat adanya insiden teroris di wilayah tersebut.
Ketegangan di Mali meletus pada 2012, setelah kudeta militer yang gagal dan pemberontakan oleh kelompok etnis nomaden Tuareg, yang pada akhirnya memungkinkan kelompok-kelompok militan yang terkait Al-Qaeda untuk mengambil alih bagian utara negara itu.
Pada 2015, pemerintah dan beberapa kelompok pemberontak menandatangani kesepakatan damai.
Namun, perselisihan politik dan masyarakat terus memicu ketegangan di Mali utara, sehingga merusak implementasi perjanjian perdamaian.