Nilay Kar Onum dan Satuk Bugra Kutlugun
13 Desember 2017•Update: 14 Desember 2017
Nilay Kar Onum dan Satuk Bugra Kutlugun
ISTANBUL
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengajak semua negara yang mengikuti hukum internasional untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Palestina “yang dijajah”.
Erdogan memberi pernyataan itu pada Pertemuan Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Istanbul, Turki pada Rabu.
"Saya mengundang negara-negara yang mengikuti hukum internasional, untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara Palestina yang 'berada di bawah jajahan'," tegas Erdogan.
Sebagai Presiden OKI saat ini, Erdogan mengatakan bahwa keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tentang Yerusalem merupakan ancaman bagi semua umat manusia, termasuk AS.
Erdogan juga menyatakan Israel adalah negara penjajah dan negara teroris atas tindakan penangkapan serta penganiayaan terhadap anak.
“Jika ini bukan penjajah, bukan teroris, apa ada penjelasan lain untuk ini?” ujar Erdogan.
Erdogan berterima kasih kepada seluruh negara yang tidak menerima langkah AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
"Hanya Israel yang saat ini menduduki Yerusalem, yang mendukung keputusan tidak sah AS. Kami berterima kasih kepada semua negara yang tidak menerima keputusan tidak sah ini. "
Erdogan mendesak AS untuk menarik keputusan yang "salah, provokatif dan melanggar hukum" tersebut.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu lalu mengumumkan bahwa AS mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan telah memberikan instruksi untuk memindahkan kedubes AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Pernyataan tersebut memicu kecaman keras dari seluruh dunia, termasuk Turki, Uni Eropa dan PBB.
Yerusalem masih menjadi poros konflik Israel-Palestina, karena warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur menjadi ibu kota negaranya di masa mendatang.
Selama kampanyenya tahun lalu, Trump telah berulang kali menyatakan akan memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.