Ketegangan di Selat Hormuz menjadi faktor kunci yang membentuk arah konflik antara Amerika Serikat/Israel dan Iran, dengan potensi memicu krisis ekonomi global yang sulit dikendalikan.
Dosen Universitas Amasya, Dr. Yusuf Bahadır Keskin, dalam analisisnya menyebut bahwa meski perundingan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan, perang belum kembali memanas, sementara gencatan senjata masih berada dalam kondisi rapuh.
Menurutnya, keputusan Iran membawa ketegangan ke Selat Hormuz memperluas dampak konflik jauh melampaui batas geografis kawasan dan berpotensi memicu krisis global.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang oleh Badan Informasi Energi AS (EIA) disebut sebagai “titik transit terpenting di dunia.”
Sekitar 20–25 persen perdagangan minyak global dan 20 persen LNG dunia melewati jalur ini, bersama dengan komoditas penting lain seperti pupuk dan helium.
Keskin menilai posisi ini menjadikan Hormuz sebagai alat strategis utama bagi Iran dalam menghadapi tekanan dari AS dan Israel.
Ia juga menekankan bahwa alternatif jalur energi yang tersedia, seperti pipa di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, tidak mampu menggantikan kapasitas besar Selat Hormuz.
Di sisi lain, kemampuan militer AS dinilai belum cukup untuk mengendalikan situasi di selat tersebut secara efektif. Karakteristik geografis Hormuz yang sempit dan dangkal, serta kedekatannya dengan wilayah Iran, membuatnya rentan terhadap strategi asimetris seperti penggunaan drone, ranjau, dan rudal pantai.
Meski tidak sepenuhnya ditutup, meningkatnya risiko di kawasan telah memicu “blokade finansial” melalui lonjakan premi asuransi kapal hingga 10 kali lipat, bahkan mencapai lebih dari 3,5 juta dolar AS untuk tanker besar.
Dampaknya, harga minyak Brent melonjak di atas 120 dolar AS per barel, memicu salah satu guncangan energi terbesar sejak 1973.
Gangguan pasokan energi dari kawasan ini berdampak luas, mulai dari negara-negara Teluk hingga ekonomi besar seperti India, Jepang, Korea Selatan, dan China, serta turut memicu tekanan inflasi global.
Keskin menilai situasi ini menciptakan tekanan diplomatik terhadap Washington untuk mencari solusi, karena krisis yang berkembang dinilai tidak lagi berkelanjutan secara ekonomi maupun politik.
Ia juga menyebut bahwa fokus utama AS dalam perundingan adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, yang mencerminkan urgensi kepentingan global terhadap jalur tersebut.
Menurutnya, meski Iran mengalami kerugian dalam aspek militer konvensional, strategi di Hormuz memungkinkan Teheran menyeimbangkan ketimpangan kekuatan.
Keskin menyimpulkan bahwa Selat Hormuz menjadi faktor penentu yang mendorong pihak-pihak untuk kembali ke meja perundingan dan mengarah pada gencatan senjata.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa masa depan pengaturan lalu lintas di selat tersebut akan menjadi isu krusial dalam proses perdamaian ke depan.
*Dosen Universitas Amasya, Dr. Yusuf Bahadır Keskin, menulis analisis untuk Anadolu tentang dampak Selat Hormuz terhadap gencatan senjata sementara dalam perang AS/Israel–Iran.
news_share_descriptionsubscription_contact
