Hamdi Celikbas
21 Desember 2017•Update: 22 Desember 2017
Hamdi Celikbas
ANKARA (AA)
Wakil Perdana Menteri Turki Bekir Bozdag pada Kamis mengkritik ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menarik dana bantuan bagi negara-negara yang menyetujui resolusi PBB.
Cuitan Bekir Bozdag di laman Twitternya mengulang pernyataan Trump itu, yang mengatakan dia akan mengurangi bantuan AS setelah negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB ramai-ramai menentang keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
"Mereka mengambil jutaan, bahkan miliaran dolar dari kita, kemudian memberikan suara menentang AS. Lihat saja, kami mengawasi pilihan mereka. Biarkan saja mereka menentang kita. Kita akan berhemat," kata Trump pada Rabu di Gedung Putih.
"Ancaman Presiden AS Trump terhadap negara-negara yang menentang keputusan AS terkait Yerusalem tidak bisa diterima. AS harus sadar mereka tidak bisa mengatur-ngatur, mengancam, dan menekan negara-negara lain," tulis Bozdag di laman Twitternya.
Negara-negara yang berdaulat itu tidak akan tunduk pada tekanan AS, tambah Bozdag.
"Turki akan tegas dengan pendirian dan prinsipnya, dan akan terus melindungi perjuangan Yerusalem dan status Yerusalem di pemungutan suara besok," jelasnya. "Turki tidak akan mengubah keputusannya karena diancam."
Dua pekan setelah Washington mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan mulai proses memindahkan kedutaannya dari Tel Aviv ke sana, AS memveto putusan Dewan Keamanan PBB yang melarang didirikannya fasilitas diplomatik di Yerusalem, yang statusnya masih diperebutkan.
14 negara anggota Dewan Keamanan menyatakan setuju dengan resolusi yang diajukan Mesir itu, dengan satu-satunya suara penolakan datang dari AS.
Semua negara anggota Majelis Umum PBB, yaitu 193 negara, akan mengadakan pertemuan luar biasa mengenai keputusan Trump itu. Di majelis, AS tidak memiliki hak veto khusus.
Yerusalem tetap menjadi pusat konflik Israel-Palestina, dengan Palestina yang mengharapkan Yerusalem Timur -- saat ini masih diduduki Israel -- menjadi ibu kota negaranya kelak.
Selama masa kampaye tahun lalu, Trump berulang kali menjanjikan relokasi kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.