Muhammad Abdullah Azzam
02 Agustus 2019•Update: 04 Agustus 2019
Mehmet Alaca
ANKARA
Turki mengutuk serangan teror dengan bom, rudal dan drone yang menargetkan kantor pasukan keamanan di ibu kota sementara Aden, Yaman kemarin.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Turki mengungkapkan pihaknya menerima berita itu dengan kesedihan mendalam atas serangan-serangan yang terjadi pada Kamis kemarin di kota Aden.
Kemlu Turki mengutuk serangan tersebut dan berharap pemulihan cepat bagi yang terluka.
Otoritas Turki juga menyampaikan belasungkawa kepada pemerintah dan rakyat Yaman.
"Kami berdoa kepada Allah bagi mereka yang kehilangan nyawa dan berharap korban luka segera sembuh serta menyampaikan belasungkawa kepada warga dan pemerintah Yaman," ungkap pernyataan otoritas Turki itu.
Turki mengungkapkan pihaknya sangat mengkhawatirkan kekerasan yang masih berlanjut di saat PBB berupaya meningkatkan langkah penyelesaian krisis melalu jalur politik di Yaman.
“Harapan terbesar kami adalah pihak-pihak bertikai menghentikan peperangan, untuk mengakhiri penderitaan rakyat Yaman serta membangun perdamaian dan stabilitas di negara itu,” tutur pernyataan pemerintah Turki itu.
Setidaknya 25 orang tewas dan puluhan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara saat parade militer di kamp militer Al-Jala di Aden, Yaman selatan.
Menurut laporan awal dari sumber militer, kelompok Houthi dukungan Iran melancarkan serangan rudal balistik jarak menengah dan pesawat tanpa awak atau drone ke kamp militer Al-Jala, distrik Buraiqa sebelah barat Aden.
Dua serangan tersebut terjadi saat pasukan al-Hizam al-Amni (Sabuk Pengaman) dukungan Uni Emirat Arab (UEA) mengelar parade militer di kamp militer tersebut.
Selain serangan udara tersebut, serangan bom mobil juga menghantam sebuah kantor polisi pada Kamis di kota yang sama. Serangan bom itu menewaskan setidaknya 10 petugas keamanan.
Yaman dilanda konflik kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara itu, termasuk ibu kota Sanaa.
Krisis meningkat setahun kemudian ketika koalisi militer pimpinan Saudi melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk mengalahkan Houthi.
Menurut PBB, Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana lebih dari 10 juta orang berada di ambang bencana kelaparan.