Muhammad Abdullah Azzam
16 Desember 2020•Update: 19 Desember 2020
Emin Avundukluoglu
ANKARA
Pembelian sistem pertahanan udara Rusia oleh Turki adalah haknya sebagai negara berdaulat, kata seorang anggota parlemen oposisi utama negara itu pada Selasa.
"Pembelian S-400 adalah hak kedaulatan Turki," ungkap Unal Cevikoz, anggota parlemen Istanbul dari Partai Rakyat Republik (CHP) di Twitter.
Cevikoz menekankan bahwa sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap Turki atas pembelian sistem pertahanan tersebut "tidak pernah dapat diterima".
Langkah Turki, sebagai sekutu NATO, untuk memperkuat pertahanannya harus dianggap sebagai langkah untuk memperkuat pertahanan aliansi, kata Cevikoz.
Turki telah menjadi anggota NATO selama hampir 70 tahun.
"Turki dipaksa untuk membeli sistem S-400, dan menggunakan pilihannya ke arah ini," kata Cevikoz, mengacu pada AS yang berulang kali menolak untuk menjualnya rudal Patriot AS.
Dia juga mendesak pemerintah Turki untuk mengaktifkan sistem pertahanan senilai USD2,5 miliar yang dibeli dari Rusia secepat mungkin, karena langkah itu sempat tertunda karena pandemi Covid-19.
AS pada Senin menjatuhkan sanksi pada Turki atas pembelian S-400 Rusia.
Ketika berupaya untuk membeli sistem pertahanan udara Patriot dari AS yang tak larut-larut membuahkan hasil, Turki pada April 2017 menandatangani kontrak dengan Rusia untuk membeli rudal S-400.
Akuisisi Turki atas sistem pertahanan udara S-400 Rusia yang canggih mendorong AS untuk menghapus Turki dari program F-35 pada Juli 2019.
AS mengklaim sistem tersebut dapat digunakan oleh Rusia secara diam-diam untuk mendapatkan informasi rahasia pada jet tersebut dan tidak sesuai dengan sistem NATO.
Turki pun membantah bahwa S-400 tidak akan diintegrasikan ke dalam sistem NATO dan tidak akan menimbulkan ancaman bagi aliansi tersebut, dan mengusulkan komite untuk memeriksa masalah tersebut.
Negara itu juga mengatakan pihaknya membeli sistem Rusia setelah AS selama bertahun-tahun menolak upayanya untuk membeli rudal Patriot AS.