Muhammad Abdullah Azzam
29 April 2020•Update: 29 April 2020
Faruk Zorlu, Erdogan Cagatay Zontur
ANKARA
Jenderal Khalifa Haftar adalah komplotan kudeta dan Ankara akan terus mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya, kata juru bicara partai yang berkuasa di Turki pada Selasa.
“Dua hari yang lalu, Haftar mencoba untuk melakukan kudeta. Dia mencoba memberikan kepada dirinya beberapa otoritas yang tidak memiliki dasar hukum.”
“Namun, Turki akan terus berdiri di belakang pemerintah yang diakui oleh PBB dan terus mendukung mereka untuk masa depan rakyat Libya,” ungkap Omer Celik, juru bicara Partai Keadilan dan Pembangunan (AK) kepada wartawan.
Sejak penggulingan Muammar Khaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya: Haftar di Libya timur, didukung oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan GNA di ibu kota yang didukung oleh PBB dan internasional.
Dalam sebuah pernyataan via video pada Senin, Jenderal Haftar yang memerangi pemerintah Libya yang diakui secara internasional di Tripoli, mengaku dirinya "menerima mandat rakyat" untuk memerintah negara itu.
Haftar mengatakan perjanjian 2015 yang ditandatangani di bawah naungan PBB yang membentuk GNA untuk mengelola proses transisi di Libya sudah tidak berlaku.
Haftar dan sekutu-sekutu politiknya berusaha mencegah perjanjian tersebut untuk diberlakukan oleh inisiatifnya di lapangan.
Peter Stano, juru bicara kebijakan luar negeri Uni Eropa, pada Selasa menyebut deklarasi sepihak Haftar tidak dapat diterima dan tidak akan pernah memberikan solusi berkelanjutan bagi negara tersebut.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga mengatakan kepada wartawan pada hari yang sama bahwa Moskow menentang penolakan Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya untuk mengadakan pembicaraan dengan Haftar.
Rusia juga tidak menyetujui deklarasi sepihak Haftar sebagai penguasa tunggal Libya.
Tentara Nasional Libya (LNA) yang berafiliasi dengan Haftar dan bermarkas di timur Libya, melancarkan serangan untuk merebut Tripoli sejak April tahun lalu yang menyebabkan kekacauan dan pertumpahan darah tanpa di pinggiran ibu kota.