Rhany Chairunissa Rufinaldo
25 Maret 2021•Update: 25 Maret 2021
Fuat Kabakci
ANKARA
Setelah 50 tahun berlalu, hubungan diplomatik antara Turki dan China terus menguat di berbagai bidang.
Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan keduanya telah meningkat secara signifikan di bidang ekonomi, perdagangan, pariwisata, dan transportasi.
Turki dan Republik Rakyat China menjalin hubungan diplomatik sejak Agustus 1971.
Sejalan dengan pembukaan kedua negara pada 1980-an, terutama hubungan bilateral, ekonomi, dan politik memperoleh momentum.
Sejak satu dekade terakhir dan seterusnya, hubungan tersebut tumbuh ke tingkat kerja sama strategis.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi China pada 2012 sebagai perdana menteri dan sebagai presiden pada 2015, 2017, dan 2019.
Selanjutnya, Erdogan dan Presiden China Xi Jinping bertemu dalam KTT G20 yang diadakan pada 2015, 2016, 2018 dan 2019, masing-masing di Hangzhou, Antalya, Buenos Aires dan Osaka.
Defisit perdagangan bilateral menyusut
Volume perdagangan antara China dan Turki mencapai sekitar USD24 miliar pada 2020.
Berkat ekspor Turki yang melonjak ke China, defisit perdagangan luar negeri Turki turun 7 persen dalam lima tahun terakhir.
Kemajuan itu terutama berasal dari peningkatan volume ekspor barang-barang pertanian dan peternakan Turki ke China.
Produsen ponsel pintar China seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo juga telah melakukan investasi langsung di Turki.
Turis China
Setelah perayaan Tahun Turki di China pada 2018, terlihat peningkatan substansial jumlah wisatawan China yang berkunjung ke Turki.
Sementara itu, pada 2019, lebih dari 426.000 turis China juga mengunjungi Turki.
Meskipun pandemi menyebabkan penurunan jumlah wisatawan China pada 2020, target 1 juta wisatawan China ke Turki diharapkan dapat tercapai di tahun-tahun mendatang.
Belt and Road Initiative
Hubungan bilateral juga meningkat dalam kerangka Belt and Road Initiative yang diumumkan Xi Jinping pada 2013.
Pada 2015, kedua negara menandatangani Sabuk Ekonomi Jalur Sutra dan Abad 21 tentang Harmonisasi Jalur Sutra Maritim melalui Nota Rekonsiliasi Inisiatif Koridor Pusat, yang awalnya diusulkan oleh Turki dengan inisiatif itu.
Sejalan dengan memorandum ini, Turki menyelesaikan proyek kereta api Baku-Tbilisi-Kars.
Kereta ekspor pertama ke China melalui rute ini, yang merupakan jalur penting dari Koridor Tengah, berangkat dari Istanbul pada 4 Desember 2020 dan mencapai kota Xian di China tengah pada 19 Desember 2020.
Kereta yang mencakup total panjang 8.693 kilometer itu membawa sejumlah peralatan ke China.
Masalah Uighur
Mengakui hak China untuk memerangi terorisme, Turki telah mendesak Beijing untuk menarik garis tegas antara teroris dan orang-orang yang tidak bersalah.
Turki juga menegaskan kembali bahwa otoritas China diharapkan menghormati hak asasi manusia universal, termasuk kebebasan beragama Uighur Turki dan kelompok Muslim lainnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pelanggaran identitas dan budaya Uighur Turki di China juga telah menerima kritik dari dunia internasional.