Repertoar

Tak perlu khawatir donor darah di masa pandemi

Masyarakat Indonesia masih diliputi rasa takut untuk mendonorkan darahnya sehingga pasokan darah saat ini berkurang

Adelline Tri Putri Marcelline, Umar Idris   | 16.06.2021
Tak perlu khawatir donor darah di masa pandemi ILUSTRASI. Warga mendonorkan darah di Stadion Joseph-Marien pada 30 November 2020 di Brussel, Belgia. ( Dursun Aydemir - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA

Selama pandemi Covid-19, ahli epidemi Indonesia menyarankan masyarakat dapat melaksanakan donor darah tanpa rasa takut.

Pakar epidemi Universitas Indonesia Pandu Riono mengatakan selama calon pendonor darah sehat, donor darah di masa pandemi dapat dilakukan seperti biasa.

“Asal sehat dan memenuhi syarat, silakan donor darah,” kata Pandu kepada Anadolu Agency, Rabu.

Menurut Pandu, tidak ada aturan baku saat ini mantan pasien Covid-19 yang telah sembuh dapat melakukan donor darah setelah waktu tertentu.

Misalnya tiga bulan setelah dinyatakan negatif. “Tidak ada aturannya, boleh kapan saja donor, asal sehat dan memenuhi syarat saja,” kata dia.

Pandu mengatakan, darah pasien yang telah sembuh dari Covid-19 aman digunakan oleh mereka yang membutuhkan darah.

“Tidak ada virus di darah, tidak ada Covid-19 jadi bisa digunakan oleh siapa pun yang membutuhkan sepanjang golongan darahnya sesuai,” kata Pandu.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla, dalam pernyataannya menyambut hari donor darah sedunia, pada Senin, mengungkapkan kegiatan donor darah di masa pandemi saat ini berkurang.

Menurut dia, sejak pandemi, kegiatan donor darah massal di Indonesia berkurang sehingga ketersediaan darah pun menipis.

Saat ini hanya kegiatan donor darah sukarela secara mandiri yang masih rutin dilakukan.

Menurut Jusuf Kalla, total kebutuhan darah sebagai stok di Indonesia sebanyak 5,5 juta kantong darah atau 2 persen dari total penduduk Indonesia sebanyak 227 juta orang.

Di setiap daerah, rata-rata kebutuhan darah sebesar 8.000 hingga 9.000 kantong per hari, tambah Risa Oktavia Niza Putri, staf humas UDD Pusat PMI kepada Anadolu Agency, Rabu.

Tahun 2019, total kebutuhan darah mencapai 3.523.982 kantong, kata Risa mengutip Data Donasi Nasional tahun 2019.

Guna meningkatkan donor darah mandiri atau sukarela, PMI menyediakan lebih dari 250 tempat yang bisa dikunjungi 24 jam untuk melakukan donor darah.

Selain itu, PMI mendatangi ke rumah dan kawasan tempat tinggal para calon donatur atau pendonor.

"Kami jemput bola, kami langsung turun untuk menjemput donatur, bekerja sama dengan RT, RW, dan kelurahan setempat," kata Risa.

Risa mengakui salah satu faktor yang menurunkan jumlah donatur darah adalah kekhawatiran terpapar Covid-19 saat mendonorkan darahnya.

Menurut Risa, kekhawatiran itu tidak perlu terjadi karena PMI menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

"Kami membatasi jumlah donatur dengan sistem antrean dan kuota, lalu jaga jarak, melakukan penyemprotan desinfektan untuk bed pengambilan darah, mengganti sarung tangan dan membersihkan peralatan secara berkala," terang Risa.

PMI selalu mengampanyekan kepada masyarakat bahwa mendonasikan darah itu aman, di PMI langsung atau di Mobile unit kami, tambah Risa.

Donor plasma konvalesen

Donor darah di masa pandemi juga sering dilakukan dengan tujuan untuk menyembuhkan pasien Covid-19 melalui donor darah plasma konvalesen.

Di twitter dan grup pesan instan, sering muncul ajakan kepada mantan penyintas Covid-19 untuk mendonorkan darahnya guna menyembuhkan pasien Covid-19 yang sedang dirawat di ruang perawatan intensif.

Donor plasma konvalesen adalah donor plasma darah yang diambil dari pasien yang didiagnosa Covid-19. Terapi ini dilatari pendapat bahwa plasma pasien yang telah sembuh dari Covid-19 diduga memiliki efek terapeutik dan memiliki antibodi terhadap SARS-Cov-2.

Pandu mengatakan, kegiatan donor plasma konvalesen dilakukan berdasarkan surat edaran Kementerian Kesehatan kepada rumah sakit - rumah sakit di Indonesia yang ditandatangani oleh mantan menteri kesehatan Terawan Agus Putranto.

“Namun perlu diingat, terapi plasma ini masih bersifat penelitian, belum ada bukti scientifik terapi tersebut efektif dan bermanfaat untuk menyembuhkan pasien Covid-19,” tutur Pandu.

Pandu secara pribadi tidak menyarankan terapi plasma dilakukan terhadap pasien Covid-19.

“Menurut studi-studi di luar, sampai saat ini belum ada manfaatnya, di Indonesia sendiri juga belum ada bukti scientifiknya,” tambah Pandu.









Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın