Pizaro Gozali İdrus
21 Februari 2019•Update: 24 Februari 2019
Pizaro Gozali
JAKARTA
Malaysia meminta perusahaan Pakistan meningkatkan branding produk dan menghasikan produksi barang yang baik dalam kerja sama perdagangan antar kedua negara, lansir The Express Tribune pada Rabu.
Berbicara kepada Kamar Dagang dan Industri Islamabad (ICCI), Duta Besar Malaysia untuk Pakistan Ikran bin Muhammad Ibrahim meminta pengusaha Pakistan fokus pada produksi komponen berkualitas tinggi untuk merek yang menjual pada tingkat global.
Produk-produk itu, kata dia, memiliki permintaan besar di pasar internasional dan akan membantu meningkatkan ekspor.
Ibrahim mengatakan minat negara-negara lain di Pakistan merupakan pertanda baik bagi investor asing.
Ibrahim mengatakan negaranya ingin meningkatkan perdagangan bilateral dengan Pakistan karena kedua negara memiliki potensi untuk menjual banyak barang.
Namun Ibrahim menyoroti kurangnya hubungan bisnis kedua negara pada sektor swasta.
Kondisi ini, kata dia, menghambat potensi perdagangan antar kedua negara.
Berbicara tentang rencana kunjungan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad ke Pakistan, Ibrahim mengatakan perjalanan itu akan membawa prospek bagi Pakistan, terutama pada sektor otomotif.
Ibrahim mengatakan sektor swasta dari kedua negara harus mempercepat upaya untuk mengambil keuntungan penuh dari perjanjian perdagangan bebas Pakistan-Malaysia (FTA) pada 2008 lalu.
“Malaysia adalah salah satu investor terbesar di Pakistan dan lebih tertarik pada sektor jasa Pakistan termasuk telekomunikasi, asuransi dan pariwisata," ujar dia.
Ibrahim menyarankan untuk menarik lebih banyak investasi asing langsung, Pakistan harus fokus pada membawa perekonomian informal ke sektor formal, yang akan memberi lebih banyak kepercayaan kepada investor asing.
Berbicara pada kesempatan itu, Presiden ICCI Ahmed Hassan Moughal mengatakan banyak produk Pakistan termasuk beras, gandum, mangga, makanan halal, makanan laut, produk daging, peralatan makan dan barang olahraga dapat menemukan pasar yang baik di Malaysia.
Hassan juga meminta Malaysia merevisi tarif bea ekspor minyak kelapa sawit mentah yang kini berada pada harga 2250 ringgit atau Rp 7,8 juta.