JAKARTA
Inggris akan menarik kembali 42 kontainer sampah plastik ilegal yang diekspor ke Malaysia sesuai dengan prinsip Konvensi Basel, ujar Komisi Tinggi Inggris.
Komisi Tinggi mengatakan bahwa pihak berwenang dan agen pengiriman saat ini bekerja bersama dalam proses pengembalian tersebut.
Kontainer-kontainer yang tiba di Pelabuhan Penang antara Maret 2018 - Maret 2019, dianggap ilegal karena gagal memenuhi persyaratan dokumen impor.
Hal ini diputuskan setelah pemeriksaan Badan Lingkungan Inggris (UK Environment Agency/EA) setelah ramai diberitakan pengiriman limbah plastik ilegal dari Inggris.
EA mengadakan serangkaian pertemuan dengan Kementerian Energi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Lingkungan dan Perubahan Iklim (Mestecc), Departemen Lingkungan Hidup, Bea Cukai Malaysia, otoritas pelabuhan terkait, dan lembaga-lembaga Malaysia lainnya.
“Tindakan proaktif Komisi Tinggi Inggris bekerja sama dengan Mestecc dalam memulangkan 42 kontainer impor plastik di Pelabuhan Penang sangat terpuji. Kerja sama ini menandakan pengakuan bahwa polusi plastik adalah masalah global yang membutuhkan komitmen dari berbagai negara untuk mengatasi masalah tersebut.
"Kami berharap kerja sama antara Malaysia dan Inggris akan memberikan contoh bagi negara-negara lain dengan perusahaan yang mengekspor limbah plastik ke negara-negara berkembang lainnya," kata Menteri Mestecc, Yeo Bee Yin, dalam sebuah pernyataan, Senin, seperti dimuat oleh The Star.
Komisaris Tinggi Inggris untuk Malaysia Charles Hay mengatakan Inggris mempunyai keprihatinan yang sama dengan Malaysia soal limbah plastik.
“Pemulangan 42 kontainer ini mencerminkan komitmen memerangi perdagangan limbah plastik ilegal,” kata ujar dia, seraya menambahkan bahwa Inggris berharap dapat bekerja sama dengan Malaysia dalam agenda yang lebih luas yaitu melestarikan lingkungan dan mengatasi perubahan iklim.
Konvensi Basel adalah perjanjian internasional untuk mengurangi pergerakan limbah berbahaya antar-negara.
Yeo sebelumnya menyoroti masalah limbah plastik yang terkontaminasi yang dikirim ke Malaysia.
China memberlakukan larangan impor plastik awal tahun lalu hingga menyebabkan dampak besar pada sistem daur ulang global.
Sejumlah perusahaan China memindahkan operasi mereka ke Malaysia setelah pemerintah China mengumumkan larangan tersebut pada 2017.
Impor limbah plastik Malaysia dari 10 negara melonjak menjadi 456.000 ton antara Januari dan Juli 2018, dibandingkan dengan 316.600 ton pada 2017 dan 168.500 ton pada 2016.
Sebagian besar sampah plastik yang masuk ke negara itu terkontaminasi dan plastik berkualitas rendah dari negara maju yang tidak dapat didaur ulang.
news_share_descriptionsubscription_contact
