Hayati Nupus
27 Juni 2019•Update: 28 Juni 2019
Hayati Nupus
JAKARTA
Presiden Rodrigo Duterte menantang Presiden Amerika Serikat dan sekutunya, Inggris juga Prancis, untuk membantu Filipina menghadapi persoalan Laut Cina Selatan dengan Beijing.
Duterte menegaskan Filipina tak dapat menghentikan China dari aktivitasnya di perairan sengketa dan tak dapat melarang negeri tirai bambu itu menangkap ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Filipina.
“Mereka [AS dan sekutunya] berkata saya harus melarang China, lantas bagaimana saya menegakkannya?” kata Duterte dalam pidato peringatan ke-122 Kelompok Kemanan Presiden di Malacanang, lansir Philstar.
“Ini tantangan saya, Amerika, Inggris, Prancis, mari berkumpul di Palawan dan melanjutkan ke Spratlys, mari kita rebut apa yang kita rebut,” tambah Duterte.
“Anda ingin saya mengorbankan nyawa 110 juta orang Filipina? Ini bukan saatnya untuk berperang…kenyataan itu adalah geopolitik.”
Duterte menengarai AS takut menghentikan China dan meminta Filipina menghadapi itu.
Dia melanjutkan bahwa tenggelamnya kapal nelayan Filipina di dekat Recto Bank bukan disengaja ditabrak oleh kapal China. Jika perahu itu dipukul dari bawah, tambah Duterte, barulah kapal itu ditabrak dengan sengaja.
Orang-orang China, ujar Duterte, memiliki petasan dengan hulu ledak atom sementara Filipina hanya memiliki petasan untuk pesta.
“Kami akan kalah dengan kekuatan yang ada,” ujar dia.
Juru bicara kepresidenan Salvador Panelo mengatakan bahwa tindakan Duterte sejalan dengan konstitusi dan bermaksud untuk melindungi kepentingan orang Filipina.
“Mereka harus percaya kepada presiden karena semua tindakannya sesuai dengan ketentuan konstitusi, yang menyatakan bahwa rakyat Filipina harus dilindungi dan dilayani,” kata dia.
“[Duterte] memprioritaskan kepentingan negara dari konsekuensi berbahaya yang mungkin terjadi jika kita melakukan kesalahan.”
Sebelumnya, Duterte mengatakan tak bisa menghentikan China untuk menangkap ikan di ZEE Filipina dengan alasan persahabatan.
Hukum internasional menyebutkan bahwa negara pantai memiliki hak berdaulat untuk mengeksplorasi, menggunakan, melestarikan dan mengelola sumber daya alam dengan jarak 200 mil laut ZEE-nya.
Awal Juni, kapal Filipina berisikan 22 nelayan ditabrak kapal China di dekat Recto Bank, wilayah yang termasuk dalam ZEE Filipina.
Sejumlah pihak mempertanyakan keberadaan kapal China di ZEE dan meminta pemerintah untuk menyelidiki insiden tersebut.