Kasm Ileri
21 Februari 2022•Update: 22 Februari 2022
WASHINGTON
Amerika Serikat (AS) akan menggunakan "setiap kesempatan dan setiap menit" untuk mencegah kemungkinan terjadinya perang antara Rusia dan Ukraina, kata Menteri Luar Negeri Antony Blinken pada Minggu waktu setempat.
Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Blinken mengingatkan kembali pernyataan Presiden AS Joe Biden sebelumnya.
“Anda mendengar Presiden Biden mengatakan [tentang] ini pada malam sebelumya: Kami percaya Presiden (Rusia) (Vladimir) Putin telah membuat keputusan, tetapi sampai tank benar-benar diluncurkan dan pesawat diterbangkan, kami akan menggunakan setiap kesempatan dan setiap menit kami untuk melihat apakah diplomasi masih dapat menghalangi Presiden Putin untuk meneruskan niatnya."
“Presiden Biden siap untuk melibatkan Presiden Putin kapan saja dalam format apa pun jika itu dapat membantu mencegah perang,” tambahnya. “Saya telah menghubungi mitra Rusia saya, Menteri Luar Negeri (Sergey) Lavrov, untuk mendesak agar kita bertemu minggu depan di Eropa. Rencananya masih bisa dilakukan – kecuali Rusia sudah melakukan penyerangan."
Blinken juga menyatakan keprihatinan atas "latihan" militer Rusia yang sedang berlangsung di Ukraina timur.
“Selalu ada peluang (bahwa Putin menggertak), tetapi setiap indikasi yang telah kita lihat, setiap gerakan yang dia buat yang mengikuti peraturan yang kita buat, dan dilihat dunia di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dewan Keamanan...,” tambahnya.
Ditanya tentang apakah rencana Rusia untuk menyerang sudah berjalan menyusul penembakan taman kanak-kanak di Ukraina timur dan serangan siber, diplomat AS itu mengatakan: seperti yang sudah dijelaskan, invasi mememang sedang dalam persiapan.
"Semua operasi palsu, semua provokasi adalah pembenaran – semua itu sudah dalam proses,” katanya.
Ketegangan meningkat secara dramatis di Ukraina timur dalam beberapa hari terakhir, dengan laporan meningkatnya jumlah pelanggaran gencatan senjata, beberapa insiden penembakan dan evakuasi warga sipil dari wilayah separatis pro-Rusia di Donetsk dan Luhansk.
Negara-negara Barat menuduh Rusia mengumpulkan hampir 150.000 tentara di sepanjang perbatasan Ukraina, memicu kekhawatiran bahwa Rusia dapat merencanakan serangan militer terhadap bekas tetangga Sovietnya.
Moskow telah berulang kali membantah rencana untuk menyerang Ukraina dan sebaliknya menuduh negara-negara Barat merusak keamanan Rusia melalui ekspansi NATO ke perbatasannya.