Muhammad Nazarudin Latief
18 Juli 2019•Update: 19 Juli 2019
Muhammad Latief
JAKARTA
Populasi orangutan di perkebunan kelapa sawit di negara bagian Sabah, Malaysia Timur turun sebanyak 30 persen dalam 15 tahun, namun populasi keseluruhan spesies di daerah itu stabil, ujar World Wide Fund for Nature (WWF).
Temuan WWF, yang dikatakan sebagai hasil survei paling intensif yang pernah dilakukan pada kera besar di dunia, menunjukkan bahwa jumlah orangutan masing-masing turun 30 persen dan 15 persen di Kulamba dan Tabin, di Sabah timur, antara tahun 2002 dan 2017
Orang utan ditemukan di hutan hujan Kalimantan dan Pulau Sumatera.
Setidaknya 650 orangutan hilang di kawasan lindung dataran rendah timur Sabah antara tahun 2002 dan 2017, kata WWF. Populasi orang utan secara keseluruhan di Sabah tetap stabil di sekitar 11.000.
"Sementara populasi orangutan telah stabil di kawasan hutan besar, jumlah mereka menurun di petak-petak hutan dalam lanskap kelapa sawit di dataran rendah timur Sabah," kata WWF, dalam sebuah pernyataan seperti diberitakan oleh Malaymail.
“Sifat monokultur dari perkebunan kelapa sawit cenderung tidak mendukung spesies yang bergantung pada lingkungan hutan seperti orang utan.”
Tetapi petak-petak hutan di dalam lanskap perkebunan memungkinkan orang utan untuk melakukan perjalanan di antara kawasan hutan dan merupakan kunci untuk kelangsungan hidup mereka, terutama di dataran rendah Sabah, kata Augustine Tuuga, Direktur Departemen Satwa Liar.
Ekonomi Malaysia dan Indonesia bergantung pada minyak kelapa sawit - komoditas yang digunakan dalam segala hal, mulai dari penyebaran cokelat hingga lipstik – yang menghasilkan devisa nilai miliaran dolar serta menciptakan ratusan ribu lapangan pekerjaan.
Ini adalah tanaman dan ekspor pertanian terbesar di negara Asia Tenggara.
Malaysia, penanam kelapa sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia, sedangkan Sabah merupakan wilayah penghasil utama kelapa sawit Malaysia.