Pizaro Gozali Idrus
28 Maret 2020•Update: 30 Maret 2020
JAKARTA
Para pemuka dari berbagai agama sepakat meminta umatnya agar menghindari kerumunan, termasuk dalam beribadah, sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.
"Hindari kerumunan sekalipun itu atas nama ibadah," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam Sholeh dalam konferensi pers di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta pada Sabtu.
Asrorun mengemukakan MUI telah mengeluarkan Fatwa No.14/2020 tentang pedoman pelaksanaan ibadah, yang isinya antara lain agar ibadah secara kerumunan seminimal mungkin dihindari.
Senada dengan MUI, Sekretaris Umum Pendeta Persekutuan Gerja-Gereja di Indonesia (PGI) Jacklevyn F. Manuputty mengatakan telah mengeluarkan imbauan sejak tanggal 13 Maret agar seluruh umat menjaga jarak dan menghindari ibadah-ibadah yang sifatnya kerumunan.
Relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Hong Tjhin juga menyatakan umat Buddha telah diimbau menghentikan kegiatan massal dan menjaga jarak minimal dua meter.
Tjhin juga merekomendasikan agar kegiatan di tempat ibadah bisa dilakukan dengan bantuan teknologi.
Selanjutnya, Sekretaris Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Steven menuturkan para uskup sudah mengeluarkan petunjuk agar seluruh kegiatan gerejawi dapat dilakukan melalui media sosial digital.
Sedangkan Nyoman Suartanu, Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat meminta umat Hindu melakukan kegiatan dari rumah.
Sebelumnya, Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menyatakan kontak dekat sebagai faktor utama pertambahan jumlah kasus Covid-19 di Tanah Air.
"Ada kontak dekat yang terjadi dengan kasus ini, sehingga mengakibatkan penularan, kemudian memunculkan angka pasien sakit," kata Yurianto dalam konferensi di Graha BNPB pada Jumat.
Jumlah positif COVID-19 di Indonesia meningkat signifikan dari 893 kasus pada Kamis menjadi 1.046 kasus pada Jumat pukul 12.00 WIB.
Peningkatan jumlah kasus itu, kata Yuri, menggambarkan masih adanya penularan penyakit di tengah masyarakat sehingga masih ada kontak dekat yang terjadi.