Nicky Aulia Widadio
12 Maret 2019•Update: 13 Maret 2019
Nicky Aulia Widadio
JAKARTA
Moda Raya Terpadu (MRT) telah memulai operasi uji coba publik pada Selasa, 12 Maret 2019.
Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan sebanyak 186 ribu orang telah mendaftarkan diri untuk menguji fasilitas MRT hingga 24 Maret 2019 mendatang.
“Selama dua minggu menuju operasi komersial kami mengundang masyarakat untuk ikut serta pada uji publik,” kata William dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
MRT menyediakan 98 perjalanan per hari pada pukul 08.00 hingga 16.00 WIB selama masa uji coba.
Tujuh rangkaian kereta MRT mengangkut empat ribu penumpang pada hari pertama uji coba.
William mengatakan jumlah penumpang akan ditingkatkan secara bertahap hingga 24 ribu orang pada hari terakhir uji coba.
“Hasil uji coba per hari akan terus dievaluasi,” ujar dia.
MRT akan mulai beroperasi pada minggu keempat Maret 2019 dan menargetkan mengangkut 65 ribu hingga 135 ribu penumpang per hari.
Pekerjaan konstruksi MRT telah rampung dan memasuki tahap finishing seperti merapikan area pedestrian di sekitar stasiun.
Sementara itu, Pemerintah dan DPRD DKI Jakarta masih membahas besar tarif MRT beserta nilai subsidinya.
PT MRT Jakarta sebelumnya mengajukan tarif sebesar Rp8500 hingga Rp10 ribu per 10 kilometer perjalanan setelah disubsidi. Angka tersebut dihitung berdasarkan survei willingness to pay masyarakat.
“Tarif masih dalam pembahasan pemerintah, MRT sudah menyampaikan seluruh argumen terkait teknis tarif,” jelas William.
Pada hari pertama uji coba, 13 stasiun pada rute Bundaran Hotel Indonesia-Lebak Bulus telah dibuka.
Salah satu peserta uji coba, Bambang Siswono, 58, menjajal MRT Jakarta untuk pertama kalinya dari Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan pada Selasa siang.
Rasa penasaran menggerakkan Bambang untuk ikut serta pada uji coba ini.
Dalam perjalanannya, Bambang menyatakan akan menjadi pengguna rutin MRT untuk bekerja.
Bambang sehari-hari berangkat kerja menggunakan KRL dan Transjakarta dari BSD, Tangerang Selatan menuju Sudirman, Jakarta Selatan.
Perjalanan itu biasanya dia tempuh sekitar satu jam, sedangkan MRT menawarkan waktu tempuh 30 menit dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI.
Dalam hal waktu, Bambang mengatakan MRT menawarkan “kepastian” dibandingkan moda transportasi lain di Ibu Kota.
“Waktu tempuhnya terprediksi dan keberangkatan kereta on time, jadi saya rasa nanti mau pakai MRT saja” kata Bambang ketika ditemui.
Peserta uji coba lainnya, Farida Muchtar, 38, meminta pemerintah memperluas jangkauan MRT.
Tempat tinggal Farida di Pondok Kopi, Jakarta Timur, jauh dari jangkauan operasional MRT.
Namun menurut dia, kehadiran MRT bisa berdampak selama integrasi antar moda transportasi berjalan baik.
“Asal integrasinya baik, kita yang tinggal di luar kawasan yang ada MRT kan mengaksesnya juga lebih mudah,” kata dia.
PT Transjakarta telah menyiapkan sejumlah rute baru dari sejumlah kawasan pemukiman di selatan Jakarta menjelang operasional MRT.
“Potensi pelanggan MRT sangat besar di selatan Jakarta, jadi Transjakarta berperan sebagai pengumpan menuju stasiun MRT,” kata Direktur PT Transjakarta Agung Wicaksono.
Integrasi transportasi, sambung dia, menjadi salah satu kunci kesuksesan pemerintah mengurai masalah kemacetan di Ibu Kota.
Kehadiran MRT diharapkan bisa perlahan mengubah kultur bertransportasi masyarakat agar beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik.