Pızaro Gozalı Idrus
26 Desember 2019•Update: 27 Desember 2019
JAKARTA
Masyarakat Aceh mengenang bencana tsunami pada 26 Desember 2004 silam yang menewaskan lebih dari 200.000 orang.
Acara upacara peringatan 15 tahun musibah tsunami Aceh digelar pada Kamis di Pidie Convention Centre (PCC) di Kota Sigli, Kabupaten Pidie.
Bupati Pidie Abusyik merasa bersyukur peringatan tsunami pada 2019 ini diselenggarakan di daerahnya.
"Di balik tsunami ada hikmah, salah satunya untuk senantiasa memperbaiki diri dan agar lebih peduli dengan alam dan selalu siaga dan waspada terhadap bencana alam," ungkap dia.
Dia mengajak masyarakat untuk terus bangkit dan dapat menahan diri dari segala perbuatan merusak lingkungan baik di darat dan di laut.
Abusyik juga mengingatkan agar masyarakat terus berupaya belajar dalam mitigasi bencana khususnya di dalam keluarga masing-masing dan terus meningkatkan ketakwaan.
“Masa lalu adalah cermin, masa depan adalah harapan, jangan terlalu haru akan kenangan luka kita," ujar dia.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo mengaku Aceh berada di posisi ring of fire, di mana ada 500 gunung api dengan lebih dari 200 patahan sesar.
Menurut Doni, kondisi ini membuat Aceh setiap saat bisa saja terkena gempa tsunami dan gunung berapi.
Hal tersebut, kata Doni, juga diperkuat dengan penemuan Gua Ek Leuntie atau gua tsunami purba yang terletak di Desa Meunasah Lhok, Lhong, Aceh Besar, Aceh. Gua itu diyakini berusia sekitar 7.400 tahun.
"Peristiwa gempa dan tsunami adalah peristiwa yang berulang. Gua Ek Leuntie adalah sebuah tempat terbaik pencatat atau penanda sejarah tsunami," ungkap Doni.
Doni meminta berharap momentum 15 tahun dilaksanakan untuk meningkatkan keimanan, kepedulian terhadap lingkungan, dan kewaspadaan terhadap bencana alam.