JAKARTA
Dimas Jayasrana mengusap keringat di keningnya, duduk menyelonjorkan kaki, meminum teh manis dan mulai melemaskan badannya, di Gondangdia, Jakarta, Senin 6 Juli 2020.
“Saya Istirahat dulu,” ujar dia. Suaranya agak serak.
Sejak pagi dia sudah setengah berteriak mengatur barisan orang-orang yang akan mengambil kebutuhan pokok dalam program Lumbung Pangan.
Lumbung pangan ini adalah tempat bagi para orang-orang miskin di Jakarta untuk mendapatkan bahan-bahan pangan secara cuma-cuma.
Di sini tersedia berbagai macam sayur mayur, lauk pauk, beras, gula hingga bumbu-bumbu dapur.
Pagi itu ada 150 warga yang datang ke Lumbung Pangan. Mereka berasal dari berbagai tempat di sekitar Gondangdia, Jakarta Pusat, dengan dengan radius kira-kira 2 kilometer.
Tapi ada juga yang berasal dari tempat tinggal yang cukup jauh, di sekitar Tanjung Priok, Jakarta Utara.
“Siapa saja yang merasa membutuhkan silakan mengambil barang-barang itu di sini. Tapi secukupnya saja, sesuai kebutuhan,” ujar Dimas.
Biasanya mereka adalah pekerja lepas harian, ibu rumah tangga, hingga pemulung yang sering terlihat saat lumbung pangan dibuka.
Program ini dia jalankan mulai 29 April lalu, saat kondisi sosial ekonomi masyarakat terganggu karena pandemi Covid-19.
Lumbung Pangan dibuka dua kali seminggu, pada Senin dan Kamis.
Hanya pada saat Ramadan lalu sempat buka tiga kali seminggu.
Gagasan dasar program ini adalah mengumpulkan sumbangan sekecil apapun dari masyarakat untuk disalurkan pada orang-orang yang membutuhkan.
Sumbangan tidak perlu selalu besar, namun yang paling penting adalah berguna dan berkelanjutan, kata Dimas.
Saat pertama dibuka, lumbung pangan hanya menyediakan beberapa kardus mi instan sisa warung milik Dimas yang sudah tutup.
Kemudian kakaknya memberikan sumbangan Rp500 ribu yang digunakan untuk belanja sayur, lauk pauk, dan bumbu dapur.
Saat itu ada 20 orang yang datang mengambil bahan-bahan pangan tersebut secara gratis.
Bahan-bahan kebutuhan itu diletakkan di atas susunan meja di halaman depan rumah yang menjadi kantor event organizer kegiatan seni budaya milik Dimas.
“Apa yang ada harus dimanfaatkan,” ujar dia.
Sejak awal, Dimas menekankan agar warga yang datang mengambil bahan pangan sesuai kebutuhan mereka, tidak berlebihan.
Ini tantangan tersendiri, karena kebiasaan masyarakat akan mengambil sebanyak-banyaknya bahan pangan jika ada kesempatan, apalagi gratis.
Selain itu kebanyakan acara pembagian bantuan sudah dalam bentuk paket.
Dimas menyadari membuat kerumunan di masa pandemi ini cukup berisiko, karena itu dia tekankan betul protokol kesehatan di Lumbung Pangan itu.
Karena itu, para “warga lumbung” -- begitu dia menyebut warga yang datang—selalu mendapatkan nomor urut untuk mengambil bahan kebutuhan, agar tidak berebut.
Mereka juga diedukasi agar tertib mengantre dalam jarak aman.
Dimas juga menyediakan tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya dan mewajibkan warga menggunakan masker.
Kini warga lumbung yang rutin datang ada sekitar 150 orang.
Saat mereka pertama kali datang, Dimas memotret wajah dan meminta identitas, sekadar untuk pendataan.
Dimas tidak bisa lebih banyak lagi warga karena keterbatasan tenaga yang membantunya menyiapkan bahan pangan dan mengatur antrean warga.
Kedermawanan
Lumbung pangan ini bermula dari keprihatinan ibunda Dimas saat menyaksikan berita tentang seorang warga di Provinsi Banten diduga meninggal karena kelaparan akibat dampak pandemi Covid-19.
“Itu menohok sekali. Empati sosial di saat seperti ini kok terlihat menipis,” ujar dia.
“Padahal bantuan pada keluarga yang terancam kelaparan kan bisa apa saja dan berasal dari siapa saja. Tidak perlu menunggu datang dari pemerintah.”
Pandemi makin lama semakin memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama pekerja informal yang bekerja harian.
Golongan pekerja informal, tidak sudah tidak mempunyai kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga, bahkan sekadar makan.
Di sisi lain, bantuan sebenarnya sudah mulai mengalir dari pemerintah maupun para donator, namun bentuknya bahan-bahan pokok saja seperti beras, minyak goreng atau mi instan.
“Tapi bagaimana dengan sayur mayur, lauk pauk atau bumbu masak, yang sama pentingnya dan tidak murah,” ujar Dimas.
Kondisi itulah yang membuat Dimas bersama teman-temannya mendirikan Lumbung Pangan, wadah donasi yang menyediakan sayur mayur, lauk pauk, bumbu atau kebutuhan memasak untuk rumah tangga.
Dimas kemudian mengunggah aktivitas lumbung ke media sosial, mulai saat dia berbelanja ke pasar, antrean warga, stok bahan pangan, hingga barang yang didonasikan.
Dari publikasi di media sosial itu muncul beragam tanggapan dari berbagai kalangan.
Mereka mulai bertanya-tanya bagaimana cara menyumbang.
“Penjual sayur, penjual tahu dan pedagang lain begitu tahu saya belanja untuk Lumbung Pangan mereka langsung ikut menyumbang,” ujar dia.
Dimas mendapati, semangat untuk menyumbang datang dari semua lapisan masyarakat.
Dia sering mendapatkan sumbangan dari dapur, seperti garam setengah bungkus, bawang putih satu plastik kecil, cabai seperempat kilogram, kemiri dan lain-lain dalam jumlah yang tidak besar.
“Mereka memberikan sumbangan dengan apa yang dimiliki. Tapi ada juga memberi sumbangan berupa beras 100 kilogram,” ujar dia.
“Ini menunjukkan bahwa banyak rumah tangga sebenarnya mampu dan bersedia memberikan sumbangan.”
Mereka menurut Dimas biasanya mengirim sumbangan tersebut dengan permintaan maaf karena tidak bisa memberikan banyak.
Tapi itu tidak masalah, meskipun kecil sumbangan itu sangat berharga bagi para penerima, ujar Dimas.
Menurut dia memberikan sumbangan tidak perlu besar, tapi hanya sekali. Walau kecil tapi berkelanjutan, itu lebih baik.
Dimas juga mengajak para donatur untuk membantu mengelola lumbung pangan, seperti membungkus bahkan mendistribusikan bahan pangan tersebut.
“Ini agar para donatur mempunyai gambaran yang utuh tentang para penerima sumbangan. Biar mereka tahu, bahwa sumbangan itu sangat berarti,” ujar dia.
Warung elektronik
Lumbung pangan ini kata Dimas akan dilanjutkan dengan perbaikan di sana-sini.
Dia berangan-angan bisa mendirikan super market yang menyediakan kebutuhan pangan warga miskin.
Barang-barangnya berasal dari sumbangan atau dibeli dari uang donasi.
“Nanti warga lumbung bayarnya dengan semacam chips yang secara periodi kita top up,” ujar dia.
Sosiolog Universitas Jenderal Soedirman Hariyadi mengatakan karakter masyarakat Asia secara umum adalah komunal.
Tradisi berbagi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dengan berbagai macam bentuk.
Di pedesaan Jawa, masyarakarat mengenal tradisi “nyumbang” yaitu memberikan bantuan berupa tenaga maupun bahan pangan untuk tetangga yang sedang mengadakan hajatan.
“Ini didukung oleh agama-agama besar yang masuk ke nusantara, semuanya mengafirmasi, atau bahkan menguatkan tradisi berbagi,” ujar dia.
Jadi, menurut dia, tidak mengherankan pada saat pandemi ini semangat kedermawanan sosial masyarakat malah meningkat.
news_share_descriptionsubscription_contact
