Sena Guler
25 April 2018•Update: 25 April 2018
Sena Guler
ANKARA
Perdana Menteri Turki pada Selasa meminta Dewan Eropa untuk "mengurus urusannya sendiri". Permintaan itu disampaikan sebagai tanggapan terhadap usulan untuk pemilihan dini di Turki dari Dewan Eropa.
”Majelis Parlemen Dewan Eropa (PACE) seharusnya mengurus urusannya sendiri. Turki yang akan mengadakan pemilihan, bukan mereka,” kata Binali Yildirim dalam sebuah konferensi pers di Madrid, Spanyol.
Sebelumnya, komite pengawas PACE meminta Turki untuk menunda pemilihan umum 24 Juni, karena dianggap tidak sesuai dengan kriteria Uni Eropa.
Parlemen Turki pada Jumat menyetujui rancangan yang menyerukan pemilihan umum dini, yang akan memperkuat langkah Turki ke sistem presidensial.
Pada April tahun lalu, mayoritas masyarakat Turki menyetujui peralihan dari sistem parlementer ke sistem presidensial melalui referendum.
Komite PACE juga sempat menambahkan, "Tidak mungkin untuk mengadakan pemilihan yang benar-benar demokratis di bawah masa darurat dan operasi keamanan yang sedang berlangsung di tenggara Turki."
Turki melancarkan operasi yang di daerah Afrin di Suriah, dengan tujuan membersihkan perbatasannya dari teroris.
Turki menerapkan masa darurat untuk pertama kalinya pada 20 Juli 2016, menyusul upaya kudeta oleh Organisasi Teroris Fetullah (FETO).
FETO dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen melancarkan upaya kudeta yang digagalkan pada 15 Juli 2016, yang menyebabkan 250 orang tewas dan hampir 2.200 orang terluka.
Dalam pertemuan di Spanyol itu, Yildirim juga mengkritik PACE karena mengundang mantan pemimpin teroris PYD/PKK bernama Salih Muslim ke sebuah acara pada Senin.
"Mendatangkan seorang teroris dan mengizinkan dia berbicara di sana tidak akan memberikan kontribusi untuk perdamaian, atau nilai-nilai Eropa."
Pada 25 Februari lalu, Muslim ditangkap di Praha atas permintaan Turki ke Republik Ceko.
Dua hari kemudian, pengadilan di Ceko membebaskan Muslim dengan syarat tidak akan meninggalkan Uni Eropa dan menghadiri persidangan selanjutnya terkait kasus ekstradisi.
Muslim adalah seorang tokoh berpengaruh bagi kelompok teroris PYD/PKK. Dia dicari oleh pengadilan Turki atas dugaan keterlibatannya dalam perencanaan serangan teroris di Ankara pada tahun 2016.
PKK yang terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, telah melancarkan kampanye teror terhadap Turki selama lebih dari 30 tahun dan bertanggung jawab atas kematian hampir 40 ribu orang.