Hayati Nupus
12 Februari 2018•Update: 12 Februari 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengatakan penyerangan terhadap umat Katolik yang tengah beribadah di Gereja Santa Lidwina Bedog, Yogyakarta, Minggu, merupakan bentuk teror dan ancaman serius.
Serangan ini, ujar Koordinator KontraS Yati Andriyani, mengindikasikan rentannya hak atas rasa aman dalam menjalankan ibadah.
“Harus dihentikan dan diungkap dengan sistematis, termasuk motif dan aktor di balik peristiwa ini,” ujar Yati dalam siaran pers, Senin.
KontraS juga mencatat terdapat 75 peristiwa kekerasan berdimensi agama dan keyakinan pada tahun lalu. Peristiwa terbanyak terjadi di Jawa Barat dengan 17 kasus, Jawa Tengah 13 kasus, Jawa Timur 7 kasus dan Banten 7 kasus.
“Kasus tersebut muncul sebagai ekses Pilkada DKI Jakarta tahun lalu, kami khawatir peristiwa serupa akan terus terjadi sepanjang tahun politik ini,” kata Yati.
KontraS mendesak agar pengungkapan kasus kekerasan terhadap kebebasan beragama sebaiknya mempertimbangkan dimensi politik menjelang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.
Tujuannya, ujar Yati, agar tak ada pihak yang mengambil keuntungan dalam momentum politik ini dengan menggunakan isu SARA yang memancing perpecahan.
Penyerangan terhadap Gereja Santa Lidwina Bedog itu melukai lima orang, termasuk Pastor Karl-Edmund Prier SK yang tengah memimpin ibadah.
Sebelumnya, penyerangan kebebasan beragama juga terjadi. Di antaranya penganiayaan terhadap Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah KH Umar Basri dianiaya di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat pada 28 Januari dan tewasnya Kepala Operasi Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) setelah dianiaya orang tak dikenal.
Kasus serangan terhadap kebebasan beragama juga tampak ketika Warga Legok, Tangerang, mengusir Biksu Mulyanto Nurhalim yang tinggal di wilayah tersebut.
Tahun ini Indonesia akan menggelar Pilkada serentak di 171 wilayah di Indonesia. Menyusul Pilpres tahun berikutnya.