31 Juli 2017•Update: 01 Agustus 2017
Erric Permana
JAKARTA
Indonesia dipilih sebagai lokasi untuk melakukan penipuan siber oleh Warga Negara Tiongkok lantaran mudah dijadikan tempat bersembunyi dan lemahnya aturan internet. Ini disampaikan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono berdasarkan keterangan pelaku.
"Kenapa dipilih Indonesia. Di indonesia mudah untuk bersembunyi karena geografinya luas. Kalau negaranya (Tiongkok) mudah teridentifikasi," ujar Argo saat konferensi pers di Polda Metro Jaya.
Menurut Argo Yuwono, terungkapnya kejahatan siber ini merupakan hasil kerjasama antara Polri dan kepolisian Tiongkok. Menurut dia, kerugian yang diakibatkan penipuan ini mencapai Rp 6 triliun.
"Menurut informasi Kepolisian Tiongkok. Ini terjadi sejak awal tahun dan meraup keuntungan Rp 6 triliun. Ini masih menurut kepolisian sana. Korbannya dari Tiongkok," tambahnya.
Kejahatan tersebut merupakan kejahatan yang paling meresahkan di Tiongkok dan berhasil menipu jutaan warga di sana.
Hingga kini kata dia, Polri telah meringkus 158 tersangka yang merupakan Warga Negara Tiongkok dari 3 kota besar di Indonesia yakni Bali, Indonesia dan Jakarta.
Modus para pelaku kata Argo, memeras para pejabat dan pengusaha di negara asalnya yang memiliki masalah hukum dan meminta imbalan.
"Modus operandi datang ke indonesia dengan visa kunjungan kemudian tahap pertama mempunyai ilegal data yang diambil tidak semestinya, data berupa pejabat dan pengusaha yang bermasalah dengan hukum. Dan dia telepon yang bersangkutan yang mempunyai permasalahan dan nanti ada pelaku yang melakukan negosiasi dia mengaku polisi dan jaksa," jelas Argo.
Polisi pun hingga kini mengaku belum menemukan paspor dari para tersangka yang merupakan Warga Negara Tiongkok. Argo mengaku hingga kini kepolisian terus melakukan penyelidikan terhadap modus warga negara tersebut memasuki Indonesia.
"Kita akan koordinasi dengan Dirjen Imigrasi dan akan lakukan kerjasama dengan Kepolisian Tiongkok juga," tutupnya.