Pizaro Gozali İdrus
12 September 2018•Update: 13 September 2018
Pizaro Gozali
BALI
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mendorong parlemen dunia meningkatkan kerja sama lintas sektor serta melakukan inovasi keuangan, teknologi, dan infrastruktur untuk memastikan semua orang memiliki akses ke energi berkelanjutan.
Bambang menegaskan ketersediaan energi seperti listrik sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, sekaligus menjadi kebutuhan mutlak menunjang pembangunan.
“Namun, hal ini menjadi tantangan besar mengingat ketergantungan pada energi fosil dan pengembangan sumber energi terbarukan masih sangat terbatas," ujar Bambang saat membuka Forum Parlemen Dunia terkait Pembangunan Berkelanjutan pada Rabu di Bali.
Bambang mengatakan penetapan Tujuan Pembangunan Global (SDGs) dan Paris Agreement mengenai perubahan iklim di tahun 2015 lalu telah mengidentifikasi energi sebagai salah satu sektor utama pencapaian pembangunan berkelanjutan.
“PBB juga telah menetapkan tahun 2030 sebagai target waktu untuk memastikan akses ke energi yang terjangkau, andal, berkelanjutan dan modern bagi semua," jelas Bambang.
Bambang menuturkan permintaan energi semakin meningkat seiring peningkatan jumlah penduduk dan pembangunan yang terus berkembang.
Sedangkan ketergantungan terhadap energi fosil, terutama minyak bumi, menimbulkan kekhawatiran mengingat energi tersebut bukan energi terbarukan.
"Potensi energi terbarukan seperti biomasa, panas bumi, energi surya, energi air, dan energi angin cukup besar. Hanya saja sampai saat ini pemanfaatannya masih sangat terbatas," terang Bambang.
Mantan Ketua Komisi III DPR RI ini menilai pemanfaatan energi terbarukan yang masih terbatas disebabkan banyak faktor, antara lain harga yang belum kompetitif bila dibandingkan dengan energi fosil, penguasaan teknologi yang rendah sehingga nilai impornya tinggi, keterbatasan dana untuk penelitian, pengembangan, maupun investasi, serta infrastruktur yang kurang memadai.
"Pembangunan berkelanjutan di bidang energi, dalam proses produksi dan penggunaannya, mendukung pembangunan manusia dalam berbagai aspek kehidupan termasuk aspek sosial, ekonomi dan lingkungan,” kata Bambang.
Untuk itu, lanjut Bambang, pemerintah, swasta maupun masyarakat harus terlibat sehingga bisa melipatgandakan kontribusi energi terbarukan dalam struktur energi dunia.
Bambang mengingatkan, energi dan cara menggunakannya harus efisien dan sedapat mungkin terbarukan.
Sumber energi terbarukan, seperti angin, matahari dan air, di banyak negara berkembang di Afrika, Asia, dan Amerika Latin bisa diubah menjadi keuntungan ekonomi untuk mempersempit kesenjangan regional.
Indonesia kembangkan energi berkelanjutan
Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, kata Bambang, Indonesia sudah memulai mengembangkan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Beberapa di antaranya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 626 unit, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) 69 unit dan Pembangkit Listrik Minihidro (PLTM) 2 unit.
Presiden Jokowi juga telah meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang berlokasi di Sidrap. Kapasitas pembangkit ini 75 Mega Watt (MW).
Forum Parlemen Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan merupakan wadah pertemuan Parlemen Dunia yang digagas DPR RI sejak tahun 2017.
Forum ini secara khusus diselenggarakan untuk meningkatkan peran Parlemen Dunia dalam mendukung pencapaian Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030.
Pada pertemuan pertama tahun 2017, forum ini berhasil merumuskan pembangunan yang inklusif dan merata sehinga tidak ada pihak yang ditinggalkan. Pada tahun 2018, sebanyak 50 negara mengikuti forum.