Emrah Gokmen dan Muslum Etgu
MALATYA/SANLIURFA, Turki
Ribuan anak-anak Suriah - yang kehilangan keluarga mereka dan berlindung di Turki setelah melarikan diri dari perang saudara - mengharapkan masa depan yang lebih baik.
Anak-anak yang kelelahan karena perang dan tinggal di pusat-pusat penampungan di seluruh negeri dengan dukungan pemerintah Turki, memimpikan kebebasan di negara mereka.
Semuanya memiliki cerita yang berbeda terkait dengan perang saudara. Tapi, mereka semua senang dengan sarana hidup yang diberikan Turki.
Banyak kebutuhan seperti pendidikan, kesehatan, olahraga, dan rehabilitasi terpenuhi di pusat-pusat penampungan.
Nilal Bakir, seorang siswa SMA, adalah satu dari 4.350 anak yang tinggal di Pusat Penampungan Beydagi di provinsi Malatya.
Sama seperti banyak anak lainnya, Bakir juga kehilangan sejumlah kerabat ketika desanya di Suriah dibom.
Berbicara kepada Anadolu Agency, dia mengatakan “Saya takut, tetapi di sini tidak lagi. Mereka memberi kami sebuah buku, pena dan semuanya ketika kami masuk sekolah. ”
Bakir bercita-cita menjadi seorang perawat.
“Saya ingin membantu orang. Semua perawat di Suriah pergi ke Turki. Saya akan kembali ke negara saya dan merawat anak-anak,” katanya.
‘Turki seperti mawar putih bagi saya’
Bakir berterima kasih kepada semua orang di Turki yang memberikan dukungan kepada keluarganya. Dalam sebuah puisi yang ditulisnya, dia menyamakan Turki dengan "mawar putih."
“Warnanya melambangkan perdamaian, Baunya adalah kesetiaan, cabangnya adalah harapan. Akarnya adalah kepercayaan,” dia membacakan.
Safiye Yunus (15), yang merupakan salah satu dari 3.800 pelajar yang belajar di Pusat Penampungan Sementara Harran di Sanliurfa, juga memiliki pandangan yang sama dengan Bakir.
Yunus menyaksikan ketika sepupunya terbunuh di Suriah.
“Saya menangis selama berhari-hari dan tidak bisa melupakan dampak dari insiden itu. Ayah dan ibu saya memutuskan untuk pergi ke Turki karena kondisi saya,” katanya.
“Setelah perjalanan berhari-hari, kami berlindung di sekolah dekat perbatasan Turki. Kami selamat berkat makanan dan pakaian yang dikirim dari Turki selama 45 hari,” tambahnya.
Menambahkan bahwa mereka telah tinggal di Harran selama 6 tahun, Safiye mengatakan “Saya sangat bahagia di Turki. Saya ingin Turki menjadi negara yang kuat dan damai.
"Saya belajar dalam keadaan yang sangat baik. Di waktu luang, saya bermain 'baglama' (alat musik gesek) dan membaca buku."
Sulef Hasan (15), siswa SMA lainnya, pergi ke Turki setelah dua sepupunya terbunuh di Aleppo.
“Saya tidak bisa bersekolah karena perang di Suriah. Itu membuat saya sedih. Saya melanjutkan pendidikan saya tanpa gangguan di Turki. Turki memenuhi semua kebutuhan kami,” kata Hasan.
"Saya ingin menjadi dokter di Turki dan ingin membantu orang di negara saya," tambahnya.
Membaca puisi Turki
Rena Kelesh (14) mengatakan mereka tidak bisa tidur karena ketakutan akibat pemboman di negara mereka yang dilanda perang.
“Saya sangat senang berada di Turki. Saya belajar bahasa Turki dan saya membaca puisi “Bendera” dalam program yang diadakan pada 2017,” kata Kelesh.
Ayet Darwis, seorang warga Suriah lainnya, mengatakan bahwa pamannya ditangkap di Suriah dan dia kehilangan paman lainnya dan beberapa kerabatnya akibat perang.
"Saya dan semua teman saya sangat senang bersekolah di Turki. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Turki yang memberi kami kesempatan ini."
Metin Yaman, koordinator di Pusat Penampungan Beydagi, menyatakan bahwa 2.944 anak dari 4.350 menerima pendidikan dan pelatihan di kamp.
"Kami juga mengadakan kegiatan sosial dan olahraga untuk anak-anak," tambahnya.
Suriah dilanda konflik dahsyat yang dimulai pada 2011 ketika rezim Assad menindak keras para demonstran dengan keganasan yang tak terduga.
news_share_descriptionsubscription_contact
