03 Oktober 2017•Update: 04 Oktober 2017
Barry Eitel
SAN FRANCISCO
Saham perusahaan-perusahaan senjata naik pada Senin menyusul terjadinya insiden penembakan massal terparah sepanjang sejarah Amerika Serikat.
Tersangka Stephen Paddock melepaskan tembakan dari kamarnya di lantai 32 Hotel Mandalay Bay di Las Vegas, Nevada, ke arah puluhan ribu penonton konser yang berkerumun di seberang hotelnya.
Hingga saat ini, setidaknya 58 tewas dan 500 lainnya luka-luka.
Tersangka ditemukan tewas bunuh diri di kamarnya. Selain itu, 10 senapan ditemukan di kamarnya.
Saham produsen-produsen senjata pun melonjak: Sturm Ruger sebesar 3,5 persen pada USD 53,50, Smith & Wesson 3 persen pada USD 15,74, dan Olin 6,6 persen yang mencapai rekor tertingginya pada USD 36,52.
Pengamat meyakini peningkatan saham tersebut dikarenakan investor memperkirakan bahwa undang-undang senjata akan semakin diperketat.
Fenomena serupa juga terjadi setelah penembakan massal di Orlando musim panas tahun lalu yang menewaskan 49 orang, dan juga penembakan di Sandy Hook Elementary School pada 2012.
Meskipun kepemilikan senjata dibatasi, penjualan senjata justru meningkat selama masa kepemimpinan mantan Presiden Barack Obama, karena para pembeli senjata mengkhawatirkan aturan penjualan.
Saham produsen senjata justru anjlok saat Presiden Donald Trump terpilih, karena Trump dipandang mendukung hak kepemilikan senjata.
"Itu adalah tindakan kejahatan murni," kata Trump, Senin, berkomentar soal insiden Las Vegas, meskipun ia tidak menanggapi pertanyaan soal undang-undang senjata.
Saham kasino-kasino Las Vegas juga turun pada Senin, khususnya saham MGM Resorts yang memiliki Mandalay Bay, yang turun hampir 6 persen pada USD 30,77.