Muhammad Nazarudin Latief
01 Oktober 2018•Update: 01 Oktober 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melalui keterangan tertulis pada Senin mendata hingga kini sudah terjadi terjadi pengambilan barang oleh masyarakat pada 40 gerai Alfamart dan satu gerai Hypermart di Kota Palu.
"Padahal tanpa diminta kami selalu memberikan bantuan saat terjadi bencana seperti ini. Seperti di Lombok, Yogya, Padang, Aceh," kata Ketua Aprindo Roy Mandey menyesalkan.
Roy juga menyesalkan keputusan pemerintah yang memberikan izin bagi masyarakat untuk mengambil barang dagangan toko ritel di Palu dan Donggala.
Ini dilakukan tanpa koordinasi lebih dahulu dengan para pemilik usaha atau management maupun menghubungi Aprindo sebagai asosiasi pengusaha toko modern.
"Itu tidak mendidik masyarakat dan seperti memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk bertindak di luar tata krama, moral, etika serta tidak berbudaya," ujar Roy.
"Padahal kami peritel modern telah turut pula selama ini memberikan kontribusi bagi kemajuan dan laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia."
Menurut Roy, dampak peristiwa ini mengakibatkan kerugaian materiil dan nonmateriil yang sangat besar.
Aprindo mencatat kerugian sekitar Rp450 miliar yang dialami oleh anggotanya yakni pemilik gerai toko modern seperti Ramayana, Matahari, Hypermart, dan Alfamidi.
Kerugian ini meliputi kerusakan bangunan, display barang dagangan dan stok barang di gudang. Selain itu, sedikitnya ada lima orang korban jiwa dari para penjaga toko.
Sampai saat ini gerai ritel Aprindo di Palu dan Donggala masih belum beroperasi karena masih dalam proses konsolidasi dan pendataan.
"Semoga dalam waktu singkat dapat segera beroperasi kembali untuk melayani kebutuhan masyarakat."