İqbal Musyaffa
07 Februari 2018•Update: 07 Februari 2018
İqbal Musyaffa
JAKARTA
Peringkat utang jangka panjang Indonesia versi lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investor Services tidak berubah dan tetap berada di level Baa3 atau prospek positif.
Tidak berubahnya peringkat Indonesia tersebut karena penerimaan negara yang dianggap masih rendah serta masih besarnya ketergantungan Indonesia pada pembiayaan luar negeri.
Akibatnya, pembiayaan dan ekonomi Indonesia terekspos dengan kondisi pendanaan global yang fluktuatif.
Penilaian Moody’s berbeda dengan Fitch yang sudah menaikkan rating Indonesia menjadi BBB dari sebelumnya BBB- pada Desember lalu.
“Moody’s akan mempertimbangkan untuk meningkatkan rating jika Indonesia menunjukkan kemajuan lebih lanjut dalam mengurangi kerentanan eksternal secara berkelanjutan,” ujar keterangan lembaga tersebut, Selasa malam.
Selai itu, Indonesia juga dihimbau dapat mendemonstrasikan penguatan kelembagaan. Salah satu indikator positif menurunnya kerentanan eksternal Indonesia menurut Moody’s adalah berkurangnya ketergantungan utang luar negeri oleh Indonesia.
Meski begitu, Moody’s beranggapan bahwa kerentanan eksternal Indonesia telah melonggar dan efektivitas kebijakan pemerintah membaik. Oleh karena itu, Moody’s masih mempertahankan propek positif pada peringkat utang Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi 5,2 - 5.3 persen
Moody’s dalam laporannya juga memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan stabil di kisaran 5,2-5,3 persen pada tahun ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang stabil dan meningkatnya pertumbuhan ekspor.
Upaya pemerintah untuk menyederhanakan regulasi investasi menurut Moody’s, telah memperbaiki persepsi investor dan meningkatkan investasi jangka panjang meskipun pertumbuhannya masih di bawah ekspektasi.
Ketaatan pemerintah dalam membatasi defisit anggaran menurut lembaga tersebut, juga telah membuat beban utang terkendali dalam level yang rendah. “Namun, basis penerimaan negara yang sempit, membatasi pemerintah dalam menjangkau utang,” jelas lembaga tersebut.
Lebih lanjut, cadangan devisa Indonesia juga dianggap oleh Moody’s sudah lebih kuat seiring dengan kenaikan harga komoditas dan pertumbuhan investasi yang stabil. Meskipun hal itu masih belum cukup untuk membuat Indonesia lepas dari kerentanan eksternal.
Jaga stabilitas ekonomi makro
Menanggapi penilaian Moody’s, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan pemerintah akan tetap menjaga kondisi makro ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter yang sudah dijalankan selama ini.
Dengan begitu, dia berharap dapat membuat ekonomi Indonesia tahan terhadap guncangan perekonomian global.
"Indonesia akan tetap menjaga dari sisi kebijakan fiskal dan moneter serta makro ekonomi bersama Bank Indonesia,” ungkap Menteri Sri di Jakarta, Rabu
Menteri Sri menambahkan, pemerintah juga akan terus melakukan reformasi di berbagai bidang seperti investasi untuk dapat bertahan dari ketidakstabilan ekonomi global.
"Kita akan konsisten melakukan reformasi struktural untuk menjaga kepekaan Indonesia dari kerentanan perekonomian global,” imbuh dia.
Melalui beragam upaya tersebut, Sri berharap dapat membuat lembaga pemeringkatan internasional seperti Moody's melihat Indonesia secara lebih positif.