Muhammad Nazarudin Latief
08 Januari 2018•Update: 08 Januari 2018
Muhammad Nazarudin Latief
JAKARTA
Realisasi bauran energi baru terbarukan pada pembangkit listrik mencapai 12,52 persen, melebihi target dalam APBN P 2017 yang hanya 11,96 persen.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Pribadi mengatakan, peningkatan ini tidak hanya terjadi pada pembangkit PLN, namun juga pembangkit yang dibangun oleh perusahaan listrik swasta (Independent Power Producer/IPP).
Bauran EBT tersebut terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 5 persen, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebesar 7,27 persen dan, EBT lainnya sekitar 0,25 persen.
Peningkatan produksi terlihat pada PLTP. Hingga November 2017, produksi listrik dari PLTP mencapai 11.560 Giga Watt hour (GWh), sementara tahun sebelumnya sebesar 10.656 GWh.
Selain PLTP, produksi listrik dari PLTA juga cukup baik dengan produksi sebesar 16.793 GWh, sebanyak 11.154 GWh dibangun oleh PLN, sisanya sebesar 5.639 GWh dibangun oleh IPP.
Selain itu, produksi pembangkit listrik EBT lainnya menyumbang sebanyak 579 GWh dalam bauran energi pembangkit listrik tahun 2017.
"Komitmen pemerintah sangat jelas dalam meningkatkan bauran EBT bagi pembangkit," ujar Agung dalam siaran persnya, Senin.
Sepanjang 2017, sebanyak 68 Power Purchase Agreement (PPA) EBT telah ditandatangani dengan total kapasitas sekitar 1,2 Giga Watt.
Pemerintah juga mendorong pengembangan EBT yang efisien.
"Dari 68 PPA energi terbarukan di 2017, kita terus pastikan agar segera financial close dan konstruksi secepatnya," ujar dia.
Target bauran EBT pada 2025 adalah 23 persen dari bauran energi primer di Indonesia.