Rhany Chaırunıssa Rufınaldo
20 Januari 2020•Update: 20 Januari 2020
Riyaz ul Khaliq
ANKARA
Raksasa elektronik Jepang Mitsubishi Electric pada Senin mengungkapkan bahwa perusahaan menjadi target serangan siber besar-besaran, di mana data pemerintah diperkirakan juga dalam bahaya.
Dalam sebuah pernyataan, Mitsubishi Electric Corp mengatakan kepada kantor berita Kyodo bahwa penyerang siber yang diduga berasal dari China itu menargetkan informasi perusahaan mengenai badan-badan pemerintah dan mitra bisnis lainnya.
"Kami mohon maaf karena menimbulkan kekhawatiran besar dan ketidaknyamanan," kata perusahaan itu.
Mitsubishi Electric adalah produsen utama di bidang pertahanan Jepang.
Tahun lalu, perusahaan itu memperoleh kontrak terbesar ketiga dari pemerintah Jepang untuk peralatan pertahanan utama.
Perusahaan menambahkan bahwa informasi yang berpotensi bocor adalah pertukaran email dengan Kementerian Pertahanan Jepang dan Otoritas Regulasi Nuklir.
Namun, Mitsubishi Electric menekankan bahwa tidak ada informasi sensitif berkaitan dengan operasi infrastruktur yang dilanggar.
"Mereka telah mengkonfirmasi tidak ada kebocoran informasi sensitif mengenai peralatan pertahanan dan listrik," kata Yoshihide Suga, juru bicara pemerintah Jepang.
Dia menambahkan bahwa informasi yang ditargetkan berkaitan dengan pelamar pekerjaan dan karyawan perusahaan serta penjualan dan teknologinya.