Muhammad Latief
JAKARTA
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) naik USD4,69 per barel pada Januari lalu menjadi USD65,59, dari USD60,90 pada Desember 2017.
Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam siaran persnya mengatakan, kenaikan ini mengikuti rata-rata harga minyak mentah dunia yang juga mengalami kenaikan pada Januari 2018.
“Kenaikan ini dipicu kesepakatan pembatasan produksi antarnegara Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan non-OPEC,” ujar dia, Selasa.
Agung mengutip data OPEC, kenaikan ini juga karena proyeksi permintaan minyak mentah global 2018 yang meningkat 0,06 juta barel per hari (bph) menjadi sebesar 98,51 juta bph.
Menurut Agung, sebab lain adalah turunnya jumlah rig di Amerika Serikat dari 931 rig menjadi 924 rig pada Desember 2017.
International Energy Agency (IEA), kata Agung, juga melaporkan harga minyak saat ini dipengaruhi turunnya produksi minyak mentah dari negara-negara OPEC pada Desember 2017.
Penurunannya sebesar 0,06 juta bph, dari 39,18 juta bph menjadi 39,12 juta bph dibanding bulan sebelumnya. Begitu pula produksi negara-negara Non-OPEC, turun dari 58,95 juta bph menjadi 58,60 juta bph (turun 0,35 juta bph).
Kenaikan harga minyak ini juga dipicu melemahnya nilai tukar Dollar AS dibandingkan mata uang lainnya, khususnya Euro.
Menurut Agung, ada juga meningkatnya permintaan heating oil di Amerika Serikat akibat musim dingin.
Faktor lain, kata Agung, menurut keterangan dari Energy Information Administration(EIA) adalah kondisi geopolitik di Timur Tengah yang belum stabil.
Untuk kawasan Asia Pasifik, menurut Agung, kenaikan harga minyak mentah dipengaruhi meningkatnya permintaan minyak di Vietnam bersamaan dengan menurunnya suplai minyak di negara tersebut.
Faktor lain adalah meningkatnya crude oil throughput pada refinery di Korea Selatan, Taiwan dan Tiongkok.
“Ada juga ledakan pada gas oil production unit yang memproduksi 200 ribu bph di Taiwan yang turut memengaruhi harga minyak dunia,” ujar dia.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listyanto mendesak pemerintah segera merespons kenaikan harga minyak dunia ini. Menurut dia, Harga ICP sudah semakin jauh dari asumsi APBN yang hanya USD48 per barel.
Responnya bisa saja dengan menugaskan Pertamina menanggung selisih harga, namun dengan konsekuensi mengurangi setoran deviden dan kemampuan investasi.
Alternatif berikutnya, kata Eko, adalah menambah Penanaman Modal Negara (PNM) pada Pertamina, agar kuat menanggung selisih harga tersebut.
news_share_descriptionsubscription_contact
