Jakarta Raya
Rhany Chairunissa Rufinaldo
JAKARTA
Kinerja ekonomi kuartal pertama yang lemah telah mendorong munculnya pandangan soal ekspor sektor swasta Thailand yang semakin redup dan memunculkan prediksi bahwa pengiriman negara ke luar negeri secara keseluruhan hanya dapat tumbuh 2,1 persen tahun ini, lansir Bangkok Post.
Sanan Angubolkul, wakil ketua Dewan Perdagangan Thailand, mengatakan ekspor saat ini sedang dikepung oleh sejumlah faktor risiko eksternal, sementara nilai per unit barang ekspor juga menurun.
Angubolkul berbicara dalam pertemuan bersama Departemen Promosi Perdagangan Internasional dan 10 kelompok pengekspor teratas untuk mengevaluasi prospek kuartal kedua, Selasa.
"Daya saing ekspor Thailand kemungkinan akan berubah dari buruk menjadi lebih buruk setelah perjanjian perdagangan bebas antara UE dan Vietnam mulai berlaku tahun ini dan AS memangkas produk-produknya yang termasuk dalam daftar Sistem Preferensi Umum," ujar dia.
Angubolkul menuturkan bahwa saat ini, model bisnis berubah dengan cepat, sehingga sektor swasta Thailand perlu menyesuaikan dan lebih fokus pada investasi luar negeri.
Menurut harian itu, Kementerian Perdagangan Thailand baru-baru ini melaporkan bahwa ekspor bea cukai turun 4,9 persen YoY pada Maret menjadi USD21,4 miliar (Rp.304,9 triliun) setelah kenaikan 5,9 persen pada Februari menjadi USD21,6 miliar (Rp.307,9 triliun).
Peningkatan pada Februari sebagian besar terjadi karena pengiriman senjata untuk latihan militer dan pengangkutan produk-produk yang berhubungan dengan minyak dan emas.
Tanpa produk-produk terkait minyak, emas dan persenjataan, ekspor akan mengalami kontraksi sebesar 4,9 persen pada Februari dari bulan yang sama tahun lalu.
Kementerian mengaitkan kontraksi Maret dengan perlambatan perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi.
Perselisihan dagang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China memiliki dampak langsung dan tidak langsung, merusak ekonomi mitra dagang, terutama yang terkait erat dengan rantai pasokan Beijing seperti Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan.
Untuk kuartal pertama 2019, ekspor mencatat kontraksi 1,6 persen YoY menjadi USD61,98 miliar (Rp.883,3 triliun), sementara impor pada periode itu turun 1,2 persen YoY, dengan total USD59,98 miliar (Rp.854,8 triliun).
Banjongjitt Angsusingh, direktur jenderal Departemen Promosi Perdagangan Internasional, mengatakan kontraksi kuartal pertama dapat mendorong departemen memotong target pertumbuhan setahun penuh sebesar 8 persen.
"Untuk mencapai pertumbuhan 8 persen seperti yang ditargetkan, kita harus memperoleh rata-rata USD23 miliar (Rp.327,7 triliun) per bulan, tetapi pada April angkanya tidak mungkin memenuhi tingkat itu. Departemen harus menyesuaikan target pertumbuhan ekspor agar lebih sesuai dengan situasi nyata," ungkap Angsusingh.
Kementerian akan mengadakan pertemuan bersama dengan Pusat Perdagangan Thailand di seluruh dunia pada 31 Mei untuk mengevaluasi situasi ekspor saat ini selama pameran dagang makanan dan minuman, ThaiFEX 2019.
Angsusingh menuturkan bahwa departemennya membentuk kelompok kerja baru untuk mengatasi hambatan perdagangan dan meningkatkan pesanan ekspor selama enam bulan ke depan.
"Saat ini, fokus promosi departemen adalah pasar baru, khususnya di setiap provinsi di China dan India," tambah dia.
