Iqbal Musyaffa
04 Agustus 2020•Update: 06 Agustus 2020
JAKARTA
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan Indonesia kalah dari Vietnam dalam menarik investasi asing karena tiga masalah, yakni harga tanah, birokrasi, dan upah.
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan harga tanah di Indonesia sangat mahal dengan rata-rata Rp3 juta hingga Rp4 juta per meter, sementara di Vietnam hanya Rp1,27 juta per meter.
“Oleh karena itu, kami mendorong pembangunan kawasan industri di Batang dengan konsep baru yang dibangun bersama Kementerian BUMN dengan harga tanah jauh lebih murah dari Vietnam,” jelas Bahlil dalam diskusi virtual, Selasa.
Bahlil mengatakan investor yang serius berinvestasi bisa mendapatkan pembebasan sewa tanah selama lima hingga sepuluh tahun.
Selanjutnya mereka akan mendapat biaya sewa dengan mekanisme yang fleksibel.
Selain itu, untuk lebih mempermudah investasi, Bahlil mengatakan seluruh proses perizinan akan diurus oleh BKPM hingga tingkat kabupaten.
“Kemudian kita juga ada masalah pada birokrasi. Investor mau mengurus izin lokasi di pemerintah daerah bisa tiga tahun belum selesai dan belum tentu izin keluar,” jelas Bahlil.
Selain itu, juga ada arogansi dan ego-sektoral antara kementerian dan lembaga yang seringkali menghambat realisasi investasi.
“Terkait ini, undang-undang omnibus law cipta lapangan kerja harus kita selesaikan karena nanti izin akan diserahkan ke Presiden baru kemudian didelegasikan kepada level di bawahnya dengan ada aturan main,” kata dia.
Kemudian, Bahlil mengatakan besaran upah minimum di Indonesia juga relatif tinggi sebesar USD279 per bulan, sementara di Vietnam hanya USD182 per bulan.
Oleh karena itu, Bahlil mengatakan akan terus memperbaiki permasalahan yang ada agar investor semakin tertarik untuk berinvestasi di Indonesia sehingga target investasi sebesar Rp817,2 triliun pada tahun ini bisa terpenuhi.
Bahlil mengatakan hingga semester pertama 2020 Indonesia berhasil meraih investasi sebesar Rp402,6 triliun atau 49,3 persen dari target sepanjang tahun.
Dia mengatakan realisasi investasi tersebut tumbuh 1,8 persen dari tahun lalu dan mampu menyerap 566.194 tenaga kerja dari 57.815 proyek investasi.
Realisasi investasi pada semester pertama tersebut terdiri dari penanaman modal dalam negeri Rp207 triliun atau 51,4 persen dari total investasi dan penanaman modal langsung Rp195,6 triliun atau 48,6 persen.