Magdalene Mukami dan Andrew Wasike
NAIROBI, Kenya
Joseph Muema telah bekerja menggunakan cat semprot selama tiga tahun terakhir, meski ia tahu, seiring waktu, umurnya akan berkurang akibat pekerjaan yang terus ia lakukan penuh tekad demi keluarganya.
Di daerah Huruma di Nairobi, pria 42 tahun yang merupakan suami dan ayah dua orang anak ini pergi bekerja mengenakan overall compang-camping dan berantakan.
"Saya tak bisa ingat kapan pakaian kami terakhir dicuci dan kami saling pinjam pakaian [dengan empat orang lainnya]," kata Joseph sambil tertawa.
Joseph merupakan satu dari seribu warga Kenya yang mencari nafkah dengan mengecat menggunakan cat semprot, dan terpapar racun dari cat semprot itu setiap harinya.
Ia menghidupkan generator diesel tua yang mengeluarkan asap hitam pekat, mungkin pertanda bahwa mesinnya tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Namun tak lama kemudian, mesin mulai berbunyi dan hidup.
Di hadapan Joseph terdapat sebuah peti mati yang baru selesai dibuat. Saat generator memberikan tekanan pada cat semprot di tangan Joseph, ia mengujinya dengan menyemprotkan segumpal cat beracun tersebut ke udara. Bau tak sedap memenuhi udara, membuat siapapun terbatuk-batuk.
Hening sesaat.
"Mesinnya bekerja dengan baik," kata Joseph sambil menekan pelatuk pistol catnya dan mengecat peti mati tersebut dengan warna coklat gelap.
"Saya melakukan pekerjaan ini demi keluarga. Saya mengecat furnitur. Sekarang banyak mengecat peti mati karena menghasilkan banyak uang," kata Joseph.
"Seperti yang Anda lihat, saya tidak mengenakan alat pelindung pernapasan. Alat itu disebutnya masker cat semprot, kan?" lanjutnya sambil menunjuk seorang pekerja lain yang memberikan sentuhan akhir pada peti mati yang baru dicat itu.
"Paku bagian kepalanya," canda Joseph.
Joseph mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa sejak melakukan pekerjaan ini pada 2014, ia mengalami persoalan pernapasan. Dokter mengatakan penyebabnya cat berbasis timah beracun yang dihirupnya setiap hari. Ia juga menderita masalah jantung dan tekanan darah akibat pekerjaan ini.
"Saya tahu cat ini membunuh dan mempersingkat usia saya, tapi saya harus melakukan ini. Saya tidak mau kembali merampok, seperti teman saya Otieno di sebelah sana. Lihat kulitnya, putih pucat. Tadinya tidak seperti itu," kata Joseph.
"Ketika pertama memulai pekerjaan ini, Anda berusaha membersihkan sisa cat yang melekat. Tapi seiring waktu, ini menjadi warna alami. Kami telah memilih untuk membunuh diri kami dengan racun ini setiap hari untuk bertahan hidup."
Joseph tetap bersyukur selama keluarganya bisa makan dan hidup damai. "Kami tidak terlalu memikirkan timah dalam cat ini meracuni diri kami setiap hari," ia berkata diikuti anggukan setuju para pekerja lain yang berada di bengkel.
Tak lama, Joseph merasa terganggu dengan seorang pekerja yang menawarkan diri untuk membantunya menuntaskan pekerjaannya namun ia menolak, menggoyangkan jari telunjuknya.
"Kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu dan lagipula kau sedang batuk parah," ujarnya dalam bahasa daerah.
Beracun
Menurut studi baru-baru ini oleh IPEN, organisasi internasional yang menyuarakan penggunaan bahan kimia aman dan berkelanjutan, Centre for Environment Justice and Development (CEJAD), suatu badan pengawas di Kenya, sebanyak 71 persen (27 dari 31 merk) cat di negara-negara Afrika Timur mengandung timah beracun.
Bukan hanya tukang cat semprot yang kesehatannya rentan terdampak. Anak-anak juga bisa terkena sebab mereka terpapar makanan dan debu yang terkontaminasi logam berat ini. Segenap lapisan warga Kenya sama-sama berisiko keracunan timah karena kebanyakan cat tembok berbahan dasar timah.
Menurut Kepala CEJAD Griffins Ochieng, dampak kesehatan dari paparan timah terhadap otak anak berlaku seumur hidup, tak bisa diubah maupun disembuhkan.
"Kita membatasi perkembangan intelektual masa depan anak dan bangsa ini meski sudah ada alternatif yang aman dan efektif yang digunakan dan tersedia di mana-mana. Kita harus mengurangi sumber penting dari paparan timah ini terhadap anak," sebut sebuah laporan pada 27 Oktober.
Berdasarkan laporan tersebut, cat kuning merupakan cat paling berbahaya, dengan konsentrasi timah 76 persen lebih besar dari 10.000 ppm, dan hampir sepertiga cat merah mengandung konsentrasi timah yang tinggi.
Kebanyakan cat Kenya tidak memiliki indikator atau tanda yang menunjukkan kandungan timah. Dan upaya Anadolu Agency untuk mendapat respon dari sejumlah perusahaan cat di Kenya tidaklah berhasil.
Jane Nishida, pelaksana tugas (plt) asisten administrator untuk Badan Perlindungan Lingkungan AS di Badan Urusan Internasional dan Kesukuan, berpendapat bahwa tantangannya sekarang ialah kesadaran.
"Menurut saya ketika negara menyadari betapa mudahnya mengetahui akar masalah, maka negara pun akan tergerak untuk bergabung dengan organisasi kami untuk menghilangkan timah dari cat pada 2020," kata Jane pada program lingkungan PBB yang diadakan di ibukota Kenya pada Agustus.
Namun, kembali di bengkel, Joseph mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa mungkin suatu hari nanti ia akan dimakamkan di dalam salah satu peti mati yang ia cat.