Maria Elisa Hospita
04 Juli 2019•Update: 05 Juli 2019
Diyar Guldogan
ANKARA
Uni Eropa menegaskan bahwa kekerasan terhadap warga sipil - termasuk pengungsi dan migran di Libya - tidak bisa diterima.
"Serangan keji dan tragis di fasilitas penahanan di Tripoli menjadi alarm tentang situasi para migran yang rentan terhadap konflik dan kekerasan yang terus berlangsung di negara itu," kata kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Federica Mogherini dan Komisaris Johannes Hahn dan Dimitris Avramopoulos.
"Kekerasan terhadap warga sipil, termasuk pengungsi dan migran, benar-benar tidak dapat diterima. Kami mengecam serangan itu," tambah mereka.
Dalam pernyataan gabungan, keduanya mendesak semua pihak untuk menghormati hukum kemanusiaan internasional dan mengizinkan akses tak terbatas bagi aktor-aktor kemanusiaan.
"Uni Eropa mendukung seruan PBB untuk penyelidikan segera terhadap serangan mengerikan ini. Setiap pelakunya harus dimintai pertanggungjawaban," tegas mereka.
Sebelumnya, Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) Libya yang diakui PBB menuding pasukan pendukung komandan militer di Libya Timur, Khalifa Haftar, membunuh para migran yang tinggal di tempat penampungan di Tripoli.
Setidaknya 80 migran juga terluka akibat serangan di pinggiran timur Tripoli.
Libya masih dilanda gejolak sejak 2011 ketika pemberontakan yang didukung NATO menewaskan Presiden Muammar Gaddafi setelah lebih dari empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya telah menghasilkan dua kursi kekuasaan yang saling bersaing. Satu di Tobruk, dan satu lagi di Tripoli.
*Cuneyt Karadag dan Abu 'Adnan turut berkontribusi dalam laporan ini