Muhammad Abdullah Azzam
09 Desember 2020•Update: 09 Desember 2020
Jeyhun Aliyev
ANKARA
Uni Eropa (UE) perlu bertindak sebagai "mediator yang jujur" dalam negosiasi Turki-Yunani di Mediterania Timur, kata menteri luar negeri Turki pada Selasa.
Berbicara pada konferensi pers bersama sejawatnya dari Hongaria Peter Szijjarto di Ankara, Menlu Mevlut Cavusoglu mengatakan Turki selalu mengharapkan UE bertindak secara strategis dan menggunakan akal sehat.
Cavusoglu menekankan bahwa Turki memberikan kesempatan diplomasi, tetapi upaya yang sama tidak dibalas oleh pihak Yunani, di mana Athena baru-baru ini memboikot pertemuan NATO yang bertujuan untuk meredakan ketegangan.
Pada Agustus, Turki melanjutkan eksplorasi energi di Mediterania Timur setelah Yunani dan Mesir menandatangani kesepakatan pembatasan maritim yang kontroversial, yang menolak isyarat niat baik Turki untuk menghentikan eksplorasi.
Kapal Turki Oruc Reis baru-baru ini kembali ke pelabuhan selatan negara itu di Antalya.
Turki secara konsisten menentang upaya Yunani untuk mendeklarasikan zona ekonomi eksklusif yang berbasis di pulau-pulau kecil dekat pantai Turki, melanggar kepentingan Turki, negara dengan garis pantai terpanjang di Mediterania.
Ankara juga mengatakan sumber energi di dekat pulau Siprus harus dibagi secara adil antara Republik Turki Siprus Utara (TRNC) dan Siprus Yunani di selatan pulau itu.
Sementara itu, Szijjarto memuji peran Turki dalam menampung jutaan pengungsi.
Kalau bukan karena Turki, ribuan migran akan mendarat di perbatasan UE, sebut dia.
"Suka atau tidak suka, keamanan Uni Eropa secara signifikan berada di tangan Turki," tukas dia.
Turki saat ini menampung 4 juta pengungsi Suriah, menjadikannya negara tuan rumah pengungsi terbesar di dunia.