Safvan Allahverdi
WASHINGTON
Presiden Donald Trump dan mitranya dari Rusia, Presiden Vladimir Putin, membahas banyak hal saat keduanya bertemu dalam KTT G20 di Jerman. Masalah campur tangan Moskow dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016 lalu, Suriah, hingga ketegangan dengan Korea Utara, menjadi isu penting yang diulas dalam pertemuan pertama mereka pada hari Jumat.
Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson yang menghadiri pertemuan lebih dari dua jam di sela-sela KTT G20 itu mengungkapkan bahwa diskusi dua pemipin negara adidaya itu berlangsung dengan sangat kuat dan panjang. Terlebih tentang isu andil Putin dalam Pilpres AS, yang sebelumnya telah disangkal oleh Putin.
“Kedua pemimpin tersebut juga mengakui tantangan ancaman siber dan gangguan dalam proses demokrasi di AS dan negara-negara lain. Mereka juga sepakat untuk mengeksplorasi pembuatan kerangka kerja di mana kedua negara dapat bekerja sama untuk lebih memahami bagaimana menghadapi ancaman siber,” kata Tillerson.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, dalam sebuah konferensi pers mengatakan bahwa Trump telah mendengar pernyataan jelas yang disampaikan oleh Putin bahwa pemerintah Rusia tidak punya andil dalam pilpres AS. “Dan dia (Trump) menerima penjelasan yang disampaikan oleh Presiden Putin,” kata Lavrov.
Dalam laporan beberapa media, klaim Lavrov itu disebut ‘palsu’ oleh pejabat AS. Sedangkan mengenai masalah Suriah, Tillerson mengatakan bahwa dua pemimpin mencapai kesepakatan, bersama dengan Yordania, untuk melakukan gencatan senjata ke sebelah barat daya Suriah.
“Area de-eskalasi ini telah disepakati. Telah dijelaskan juga dapat kesepakatan mengenai siapa yang akan mengamankan area ini. Gencatan senjata telah dilakukan. Dan menurut saya, ini adalah indikasi pertama yang menunjukkan bahwa AS dan Rusia dapat bekerja sama di Suriah,” kata Tillerson.
Adapun wilayah-wilayah agresi akan mencakup Idlib, daerah tertentu di Provinsi Latakia, Homs, Aleppo dan Hama. Begitupun dengan Damaskus, Ghouta Timur, Daraa dan Quneitra, yang juga masuk dalam kesepakatan.
Dalam perbincangan terpisah di Ibu Kota Kazakhstan pada Mei lalu, Turki juga setuju bersama dengan Rusia dan Iran mengenai rencana untuk membangun jaringan zona de-eskalasi di berbagai wilayah Suriah yang dilanda perang,
Beralih ke Korea Utara, mengenai bantuan Putin kepada AS untuk memberi tekanan pada Pyongyang yang baru saja melakukan uji coba rudal balistik antar benua (ICBM), Tillerson mengatakan kedua pemimpin tersebut memiliki pertukaran yang ‘cukup bagus’. Dia pun menyebut akan ada diskusi lanjutan untuk masalah ini.
“Keduanya telah memahami maksud dan niat masing-masing, dan menurut saya sanksi yang diambil di sini sejak akhir pecan lalu hingga 10 hari kemudian telah mendapat perhatian mereka. “Dalam pemahaman mereka, kami bertekad untuk membawa lebih banyak tekanan untuk menghadapi Korea Utara,” ujarnya.
Sebelumnya, Korea Utara mengumumkan keberhasilan mereka melakukan uji coba ICBM. Korut mengklaim rudah mereka mencapai ketinggian 2,802 kilometer dan terbang sejauh 933 kilometer selama 39 menit sebelum mendarat di Laut Jepang.
Utusan AS di PBB, Nikki Haley, sempat mengatakan bahwa negaranya ingin menghindari konflik. Namun peluncuran rudal balistik antar benua yang dilakukan oleh Korut dianggap sebagai pernyataan yang jelas sebagai “peningkatan militer yang sangat tajam”.
Haley pun menegaskan, AS siap untuk menggunakan kekuatan militer mereka untuk mempertahankan diri jika diperlukan. China dan Rusia telah menyampaikan kekhawatiran mereka tentang uji ICBM Korut. Namun keduanya mendesak digelarnya dialog dengan Korut sambil mengkritik retorika Washington dan penerapan system pertahanan rudal di Korea Selatan.
news_share_descriptionsubscription_contact
