14 Juli 2026•Update: 14 Juli 2026
Serangan Amerika Serikat menghantam sedikitnya enam lokasi di dua provinsi barat daya Iran, Bushehr dan Khuzestan, pada Selasa.
Otoritas Iran melaporkan serangan tersebut memicu sejumlah ledakan di beberapa wilayah, namun belum ada laporan mengenai korban jiwa.
Wakil Gubernur Bushehr Bidang Politik dan Keamanan Ehsan Jahanian mengatakan empat lokasi di Kota Bushehr menjadi sasaran proyektil Amerika Serikat.
"Empat lokasi di Kota Bushehr dihantam proyektil musuh siang ini," kata Jahanian kepada kantor berita pemerintah IRNA.
Kota Bushehr diketahui memiliki fasilitas nuklir utama yang berada di bagian tenggara wilayah tersebut.
Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan warga Bushehr dan wilayah Choghadak di sekitarnya mendengar beberapa ledakan.
Penyiaran publik Iran, IRIB, juga melaporkan sedikitnya lima ledakan terdengar di sebelah barat Bandar Abbas, Iran selatan.
Serangan juga terjadi di Khuzestan
Secara terpisah, Wakil Gubernur Khuzestan Bidang Keamanan Valiollah Hayati mengatakan satu lokasi di Kabupaten Abadan dihantam proyektil Amerika Serikat pada pukul 13.25 waktu setempat.
Lima menit kemudian, satu lokasi lain di dekat Kota Mahshahr juga menjadi sasaran serangan yang memicu dua ledakan, menurut laporan IRNA yang mengutip Hayati.
CENTCOM akui serangan terbaru
Sebelumnya pada Selasa, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah menyelesaikan gelombang terbaru serangan terhadap sasaran militer di Iran, termasuk di Bushehr, Chah Bahar, Jask, Konarak, Abu Musa, dan Bandar Abbas.
Serangan terbaru terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz setelah perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran dengan alasan sebagai respons terhadap serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman pada Juni 2026 yang mencakup gencatan senjata hasil mediasi Qatar dan Pakistan sebagai langkah menuju kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang.
Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 8 Juli mengumumkan bahwa gencatan senjata tersebut "telah berakhir" setelah kembali meningkatnya eskalasi konflik.