Surya Fachrizal Aprianus
04 Juni 2019•Update: 04 Juni 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengecam keras serangan terhadap para pemrotes Sudan yang menewaskan sedikitnya 13 orang dan beberapa lainnya cedera, pada Senin
Pasukan keamanan Sudan bergerak untuk membersihkan sebuah kamp utama pemrotes di dekat markas tentara di Khartoum pada Senin pagi, menggunakan amunisi dan gas air mata.
Kamp tersebut telah didirikan sejak lengsernya bekas Presiden Sudan Omar al-Bashir pada April.
Guterres "mengutuk penggunaan kekuatan untuk membubarkan para pemrotes. Dan dia khawatir dengan laporan bahwa pasukan keamanan melepaskan tembakan ke dalam fasilitas medis," kata juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric.
"Sekretaris Jenderal mengingatkan Dewan Transisi Militer tentang tanggung jawab untuk keselamatan dan keamanan warga Sudan," kata Dujarric.
"Dia mendesak semua pihak untuk menahan diri dalam bertindak. Dan juga menegakkan hak asasi manusia bagi semua warga negara, termasuk hak untuk berkumpul dan berekspresi."
Di antara mereka yang terluka pada Senin adalah juru runding oposisi Abbas Medani, menurut saksi mata.
"Kami menganggap Dewan Transisi Militer (TMC) bertanggung jawab atas apa yang terjadi pagi ini," kata Asosiasi Profesional Sudan, seraya menyeru para pemrotes "untuk menentang aksi militer."
Asosiasi Profesional Sudan telah menjadi kekuatan inti yang menggulingkan bekas presiden al-Bashir.
Aksi pendudukan di dekat markas militer Sudan telah menjadi pusat lokasi protes mendesak TMC untuk menyerahkan kekuasaan kepada pemerintahan sipil.
Pada awal April, pasukan militer Sudan menggulingkan al-Bashir setelah demonstrasi rakyat berbulan-bulan menentang kekuasaannya selama 30 tahun. Saat ini TMC menjalankan pemerintahan transisi selama 2 tahun sebelum diadakannya pemilihan presiden yang baru.
Sementara demonstran tetap berada di jalan menuntut TMC melepaskan kekuasaan secepatnya kepada otoritas sipil.oritas sipil.
"Sekretaris Jenderal mendesak para pihak untuk melakukan dialog damai dan tetap berada di jalur negosiasi dalam peralihan kekuasaan ke otoritas transisi yang dipimpin warga sipil, seperti yang dipersyaratkan oleh Uni Afrika," kata Dujarric.
"PBB berkomitmen untuk bekerja sama dengan Uni Afrika dalam mendukung proses ini dan siap untuk mendukung para pemangku kepentingan Sudan dalam upaya mereka membangun perdamaian," tambahnya.