Hassan Isilow
26 April 2018•Update: 26 April 2018
Hassan Isilow
JOHANNESBURG
Ribuan pengunjuk rasa pada hari Rabu turun ke jalan di kota-kota besar di Afrika Selatan menentang usulan upah minimum nasional.
Para pengunjuk rasa mengatakan mereka tidak senang dengan RUU amandemen undang-undang tenaga kerja yang diusulkan, yang akan menetapkan upah minimum sebesar 20 rand (USD1,6) per jam.
“Apa yang dapat dilakukan dengan 3.500 rand (USD280) sebulan? Ini adalah upah budak, itulah mengapa saya di sini memprotes," ujar seorang pekerja pabrik di Johannesburg yang menyebut dirinya dengan nama Mazibuko.
Upah minimum nasional yang disetujui oleh kabinet November lalu hingga kini belum disetujui oleh parlemen.
Para pengunjuk rasa, yang sebagian besar mengenakan kaos merah dan topi milik Federasi Serikat Buruh Afrika Selatan (SAFTU), berbaris melalui kota Johannesburg untuk menyerahkan daftar tuntutan mereka kepada pihak berwenang.
Perwakilan serikat pekerja yang berafiliasi dengan SAFTU dan anggota non-serikat serta partai politik juga berpartisipasi dalam pawai tersebut.
Toko-toko dan pusat bisnis lainnya ditutup di pusat kota Johannesburg selama aksi in. Kendaraan layanan umum juga tidak beroperasi hampir sepanjang hari.
Biasanya, pemogokan di Afrika Selatan kerap berubah menjadi kekerasan dengan toko-toko dijarah dan properti dirusak.
Pemogokan kali ini terbilang menjadi aksi besar kedua yang melanda Afrika Selatan pada bulan ini, setelah 15 ribu pengemudi bus menghancurkan alat-alat karena kecewa dengan gaji yang rendah.