Rhany Chairunissa Rufinaldo
21 Februari 2019•Update: 22 Februari 2019
Fuat Kabakci
BEIJING
Presiden China mengatakan bahwa Beijing tetap bertekad untuk mengembangkan kemitraan strategis dengan Iran meskipun ada perubahan di arena global dan regional, Rabu.
"Tidak peduli bagaimana situasi internasional dan regional berubah, tekad China untuk mengembangkan kemitraan strategis yang komprehensif dengan Iran tetap tidak akan berubah," kata Xi Jinping selama pertemuan dengan delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Ali Larijani di Aula Besar Rakyat di Beijing.
Xi menegaskan kembali dukungan negaranya untuk Iran dalam hal memainkan peran konstruktif dalam membantu menjaga perdamaian dan stabilitas regional dan komitmennya untuk berkomunikasi dan berkoordinasi dengan Iran mengenai masalah-masalah regional.
"Kedua negara perlu lebih memperdalam saling percaya strategis dan terus memperluas saling pengertian dan dukungan pada isu-isu yang melibatkan kepentingan inti masing-masing dan keprihatinan utama," tambahnya.
Larijani mengutip hubungan bersejarah dan persahabatan antara kedua negara sambil menekankan perlunya untuk memperdalam hubungan.
"Memperkuat kerja sama bilateral tidak hanya untuk kepentingan kedua negara tetapi juga penting untuk perdamaian dan stabilitas di Asia dan dunia," katanya.
"Iran ingin memperdalam rasa saling percaya dan mempromosikan kerja sama pragmatis dengan China," tambahnya, menekankan perlunya Teheran dan Beijing untuk saling mendukung di arena internasional dan regional.
Pertemuan itu terjadi sehari setelah para menteri luar negeri China dan Iran bertemu di Beijing untuk membahas hubungan dan perkembangan kawasan.
"Iran ingin mengambil bagian dalam Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) China," kata Menteri Luar Negeri Javad Zarif selama pertemuan dengan rekan sejawatnya Wang Yi.
Kedua menteri juga menyatakan keinginan untuk meningkatkan hubungan bilateral.
Wang mengatakan China menghargai peran Iran dalam urusan regional dan berharap dapat melihat peran itu berkembang lebih jauh.
Pertemuan terjadi beberapa hari sebelum Putra Mahkota Mohammad bin Salman dari Arab Saudi - saingan berat Teheran - dijadwalkan untuk mengunjungi Beijing.