Hayati Nupus
26 Juli 2019•Update: 28 Juli 2019
Servet Gunerigok
WASHINGTON
AS berharap Turki tak membuat “operasional” sistem pertahanan misil Rusia S-400 yang dibeli dari Moskow, ujar Menteri Luar Negeri Mike Pompeo pada Kamis.
“Ada banyak sanksi yang bisa diikuti, tapi, terus terang, yang benar-benar kami sukai adalah operasional S-400 tak terjadi,” kata Pompeo dalam wawancara dengan Blommberg. “Itu tujuan kami.”
“Ini yang kami bicarakan dengan Turki selama berbulan-bulan. Kami sudah memberi tahu mereka bahwa itu tak sesuai dengan F-35.”
Presiden Donald Trump mengatakan kepada para senator Partai Republik dalam pertemuan tertutup di Gedung Putih pada Selasa lalu bahwa dia tak mendukung penerapan hukuman pada Turki untuk akuisisi sistem rudal anti-udara S-400 Rusia.
Pada pekan lalu, Trump berulang kali menyatakan keengganannya untuk menghukum Turki atas pembelian S-400, ketika mengumumkan penghapusan Ankara dari program Joint Strike Fighter F-35.
Pengusiran Turki dijadwalkan akan selesai pada akhir Maret 2020.
Pemerintahan Trump menyatakan bahwa S-400 dapat membuka kemungkinan akal-akalan Rusia dan tak kompatibel dengan sistem NATO.
Turki menentang argumen bahwa S-400 tak cocok dengan sistem NATO dan mengatakan kerja sama ini tak akan menjadi ancaman bagi aliansi.
Trump menyalahkan pemerintahan Obama terkait konflik ini, karena menolak menandatangani kesepakatan dengan Turki soal penjualan sistem rudal Patriot produksi perusahaan Amerika Raytheon.
Pompeo meminta Ankara untuk mempertimbangkan kembali keputusannya, dengan mengatakan, “Kami semua bekerja—semua orang bekerja sama untuk melakukan yang terbaik.”
“Kami telah menjelaskan kepada Turki bahwa aktivasi S-400 tak dapat diterima,” tambah dia.
Lewat Twitter, Senator Lindsey Graham mengatakan bahwa AS dan Turki “harus menemukan cara untuk menghindari keretakan hubungan bersumber dari Turki yang mengaktifkan” sistem rudal S-400.
“Ketika datang ke Turki, kami mencari sama-sama untung, bukan rugi,” tulis Graham.