Astudestra Ajengrastrı
11 Juli 2018•Update: 11 Juli 2018
Alix Hardy
MEXICO CITY
Semakin banyak politisi Haiti yang menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Jack Guy Lafontant setelah pemerintah berupaya menaikkan harga bahan bakar yang menyebabkan kerusuhan selama empat hari di negara tersebut.
Ketua Dewan Rendah Parlemen Gary Bodeau pada Selasa meminta pengunduran diri Lafontant melalui siaran radio nasional.
"Perdana Menteri adalah seorang dokter yang hebat. Negara ini akan bersyukur. Namun sebagai perdana menteri, dia sudah menjalankan tugasnya," kata dia.
Bodeau berkata, dirinya dan Ketua Senat Joseph Lambert telah memperingatkan tak akan mendukung Presiden Jevenel Moise bila harga BBM tetap dinaikkan.
Dalam perkembangan yang mengejutkan, Menteri Komunikasi Guyler C. Delva, pendukung garis keras presiden, mengatakan tidak akan turun dari jabatannya, beberapa jam setelah mengumumkan akan mengajukan pengunduran diri.
"Presiden Jovenel Moise meminta saya untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini... Jadi saya tidak mengajukan pengunduran diri," cuit dia.
Beberapa organisasi sipil, termasuk Pusat Analisis dan Penelitian HAM (CARDH), meminta Presiden Haiti untuk memberikan respons pada Senin.
"Presiden Jovenel Moise harus menghadapi konsekuensinya," ujar mereka.
Juga pada Senin, anggota parlemen bersama pemimpin agama dan ekonomi memaksa Moise untuk mengubah arah pemerintahannya setelah kerusuhan yang terjadi karena rencana kenaikan harga BBM.
Untuk meredakan situasi, presiden bertemu dengan perwakilan dari sektor swasta yang berpengaruh pada Selasa "untuk mempertimbangkan tindakan yang harus diambil untuk memulihkan stabilitas dan ekonomi", katanya di Twitter.
Situasi sudah mereda, menurut laporan media lokal, di mana masyarakat sudah mulai tampak beraktivitas di jalan-jalan dan mayoritas barikade telah ditarik. Namun masih banyak toko dan pom bensin yang masih tutup.
"Situasi kembali normal" dan "sudah aman untuk berpergian", ujar Lafontant meyakinkan melalui siaran pers.
"Penyelidikan akan dilakukan oleh pemerintah untuk memberikan keadilan bagi para korban."
Permasalahan ini dipicu oleh pengumuman pemerintah pada Jumat yang menyebut akan menaikkan harga bensin, bahan bakar diesel dan minyak tanah sebesar 38 hingga 51 persen mulai Minggu, guna menyesuaikan aturan Dana Moneter Internasional (IMF) dan menaikkan pendapatan pemerintah.
Para demonstran membakar ban di jalan-jalan utama, setidaknya tiga orang tewas dan banyak lainnya terluka dalam aksi protes ini, menurut media lokal.
Kerusuhan berlanjut dengan perusakan dan pembakaran toko-toko dan rumah-rumah pribadi.
Lafontant sempat menyerah pada Sabtu dan menunda kenaikan harga sampai batas waktu yang tidak ditentukan, sementara Moise mengimbau warga untuk tetap "tenang" dan para demonstran untuk "kembali ke rumah", juga mengatakan bahwa jajaran otoritas mengalami "moskomunikasi".
Dalam pernyataan pers pada Selasa, Lafontant bersikeras bahwa harga BBM di Haiti adalah yang termurah di benua Amerika Utara untuk ukuran negara bukan penghasil minyak -- harga BBM di sana bahkan lebih murah ketimbang negara tetangganya, Republik Dominika.