Maria Elisa Hospita
09 Maret 2019•Update: 11 Maret 2019
Lokman İlhan
CARACAS
Pemadaman listrik di Venezuela sejak Kamis malam masih berlanjut di sebagian besar wilayah negara itu, termasuk di ibu kota Caracas.
Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan pejabat pemerintah lainnya menyebut pemadaman itu sebagai "sabotase".
Akibatnya, kereta bawah tanah di Caracas tak berfungsi dan sekolah di seluruh penjuru negeri ditutup.
Gelap gulita menyelimuti 22 dari 23 provinsi di Venezuela dan menyebabkan gangguan di Bandara Internasional Simon Bolivar, utara Caracas.
Pemerintah pun telah menginstruksikan kantor untuk tutup sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Menteri Energi Luis Motta Dominguez pada Jumat mengatakan akan menyalakan listrik lagi dalam waktu tiga jam. Sejak itu, sebagian listrik sudah pulih di beberapa bagian negara.
Venezuela telah diguncang gelombang protes sejak 10 Januari ketika Maduro dilantik untuk masa jabatan kedua.
Ketegangan meningkat ketika pemimpin oposisi, Juan Guaido, mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sementara pada 23 Januari, sebuah langkah yang didukung oleh Amerika Serikat dan banyak negara Eropa dan Amerika Latin.
Sementara itu, Rusia, Turki, China, Iran, Bolivia, dan Meksiko menyatakan dukungan untuk Maduro.
*Dilara Hamit turut berkontribusi dalam laporan ini